Manfaat Tanaman Adas

Adas yang memiliki nama latin : Foeniculum vulgare Mill. Nama daerah: Hades; adase; Fenkel; Fennel; Denggu-denggu; Papaato; Alas; Landi; Adhas; Cedas; Adeh; Manih; Wala wunga; Kumpasi; Paapang; Rempasu Deskripsi tanaman: Terna, tinggi 0,5-3 meter, batang beralur, tumbuh tegak. daun berbagi menyirip, berseludang dengan warna putih. Perbungaan berbentuk payung dengan 6-40 gagang bunga, mahkota bunga berwarna kuning. Buah berusuk-rusuk sangat nyata, panjang 4-6 milimeter, warna hijau pada waktu muda dan keabu-abuan setelah tua. Habitat: Tumbuh secara liar di daerah Tosari dan dibudidayakan di pegunungan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada ketinggian 900 – 1.300 dpl. Bagian tanaman yang digunakan: Buah Kandungan kimia: limonena; minyak lemak; stigmasterin; umbeliferona; gula; saponin; flavonoida; polifenol. Tanaman adas memiliki khasiat : Anti inflamasi , karminatif , diuretik , anti mikroba. Adapun beberapa resep obat salah satunya adalah Sembelit:Adas 3 butir; Daun muda jambu biji 3 lembar; Kulit batang pulosari 1/2 jari; air 2 cangkir; Ramuan direbus hingga mendidih sampai diperoleh cairan 1 cangkir kemudian disaring, Bayi umur 3 bulan: sehari minum 5-7 kali, tiap kali 1 sendok teh; Bayi umur 6 bulan: sehari minum 3 kali, tiap kali 1 sendok makan; Anak umur 3 tahun: sehari minum 3 kali, tiap kali 2 sendok makan; Remaja: sehari minum 1 kali, tiap kali 1 cangkir. Batuk: Adas 3 butir; Gula batu secukupnya; Air secukupnya; Daun sagamanis 7 lembar; Kulit batang pulosari 1 jari; Bawang merah 1 buah, Campuran ditambah air sedikit, lalu ditumbuk halus, kemudian dibungkus dengan daun pisang selanjutnya dikukus 15 menit, lalu diperas dengan kain bersih, Diminum sekaligus sebelum tidur. Sakit perut: Adas 5 butir; Ketumbar 11 biji; Merica bolong 11 biji; Daun po’o segar 20 lembar; Air 2 cangkir; Kunyit 1/2 jari; Lempuyang wangi dibakar 1 biji; Temu kunci dibakar 3 biji; Temu kunci segar 3 biji; Kayu ules 1 biji, Campuran ditumbuk, kemudian dididihkan sampai memperoleh 1 cangkir, lalu disaring dengan kain bersih, Diminum sehari 2 kali. Tanaman adas hampir dilupakan banyak orang padahal tanaman ini masih banyak memiliki khasiat.

Manfaat Asam jawa

Tanaman Asam Jawa termasuk familia Caesalpiniaceae.Dapat ditemui di dataran rendah, di tepi-tepi jalan raya sebagai pohon perindang.

Untuk pengembangbiakannya dapat digunakan biji-bijian.

Nama lain :  tangkal asem (Sunda), celagi, acem

Tanaman ini mengandung : asam anggur, asam apel, asam tartrat, asam malat, asam sitrat, asam suksinat, asam asetat, pectin.

Kegunaan :

Bisul: Asam kawak (daging buah asam matang yang sudah diolah dan warnanya hitam, bukan coklat) sebesar telur burung puyuh, direndam dalam 1 gelas air sehingga mengembang, 5 iris temulawak yang dicuci dulu sebelum diiris, gula aren untuk pemanis. Semuan dididihkan sehingga airnya tinggal setengah. Diminum 1x sehari sampai sembuh. Untuk ditempelkan: asam kawak sebesar telur burung puyuh, sedikit garam dan sedikit minyak dicampur dan dilumatkan. Tempelkan ke bisul.

Jerawat: 12 helai daun sambiloto, 10 iris temulawak, kencur 5 cm, 1 1sendok teh adas, 10 helai daun jintan, semua dicuci. Lumatkan dengan asam kawak sebesar telur burung puyuh. Beri 1 2/2 gelas air, saring dan ampasnya diperas dengan kain. Minum 3x sehari. Untuk obat luar: asam jawa diberi air bersih, diremas-remas, disaring dan airnya dipakai untuk mencuri muka menjelang tidur malam.

Gatal berupa titik-titik merah bergelembung air:Delapan iris temulawak yang dicuci dulu sebelum diiris dan gula aren direbus dengan segelas air, sampai airnya tinggal setengah. Masukkan asam kawak sebesar telur burung puyuh, aduk sampai asam keluar sarinya. Saring. Minum 1x sehari sampai sembuh.

Gatal pada bekas luka yang sudah kering:
Cara I: asam kawak dilembapkan dengan air bersih yang sudah matang, lalu digosokkan ke bekas luka yang gatal. Cara II: 1 sendok makan penuh daun asam, sepotong empu kunyit, dicuci, dilumatkan, ditempel ke bekas luka yang gatal.

Nyeri haid pada gadis remaja: Cara I: 10 iris temulawak yang dicuci dulu sebelum diiris, gula aren untuk memperbaiki rasa, direbus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Masukkan asam kawak sebesar telur burung puyuh. Aduk sampai asamnya mengembang. Sering, Diminum 1x sehari selama seminggu sebelum haid. Cara II: Asam kawak sebesar telur burung puyuh, 10 iris kunyit segar yang dicuci dulu sebelum diiris. Seduh dengan setengah gelas air. Tutup dan biarkan sampai hangat kuku. Saring. Ramuan ini untuk sekali minum. Lakukan setiap pagi dan sore. Catatan: Ramuan asam kawak jangan diminum oleh wanita hamil.

Haid bau anyir: Asam kawak sebesar telur burung puyuh dicampur dengan 10 iris temulawak yang dicuci dulu sebelum diiris dan irisan gula aren. Seduh dengan segelas air. Aduk rata. Setelah dingin disaring. Diminum 1x sehari selama haid.

Batuk kering: 2 gelas daun asam, 2 gelas daun saga, 5 cm kayu manis Cina dicuci, direbus dengan 3 gelas air sampai airnya tinggal 2 gelas. Diminum siang hari, sebagai pengganti air minum biasa. Ulangi selama beberapa hari.

Sariawan: 1 cangkir daun asam muda, sepotong kunyit 5 cm. Semua dicuci, kunyit diiris. Rebus dengan 4 gelas air sampai airnya tinggal setengah. Supaya rasanya agak enak, boleh ditambahkan gula aren saat merebus. Saring. Minum pagi dan sore. Ulangi selama beberapa hari.

Keputihan: Asam kawak sebesar kelereng, 25 helai daun beluntas dicuci, kunyit 5 cm dicuci, dikupas, sedikit gula aren. Daun asam dan kunyit dilumatkan, diseduh dengan 1/2 gelas air panas. Masukkan asam dan gula. Aduk-aduk sampai gula larut. Peras dengan kain. Diminum menjelang tidur malam setiap hari.

Campak: 1 gelas daun asam, 3 rimpang kunyit segar dicuci, diiris, sedikit garam dan gula aren. Semua direbus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal setengah. Diminum pagi dan sore. Ulangi seperlunya.

Borok (luka berair dan bernanah, gatal, dan pedih):Biji-biji asam dicuci, dikupas, dilumatkan. Tempelkan pada borok. (mrd)

SUMBER :

Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus Agriwidya, 1999.

Muhlisah, Fauziah. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya, 1999.

Tampubolon, Oswald T. Tumbuhan Obat. Jakarta : Penerbit Bhratara, 1995.

Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : PT. Intisari Mediatama, 1999.

manfaat pinang (areca catechu)

Pinang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita antara lain air rebusan dari biji pinang digunakan untuk mengatasi penyakit seperti haid dengan darah berlebihan, hidung berdarah (mimisan), koreng, borok, bisul, eksim, kudis, difteri, cacingan ( kremi, gelang, pita, tambang), mencret dan disentri oleh masyarakat desa Semayang Kutai- Kalimatan Timur. Selain itu digunakan juga untuk mengatasi bengkak karena retensi cairan (edema), rasa penuh di dada, luka, batuk berdahak, diare, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, memeperkecil pupil mata. Biji dan kulit biji bagian dalam dapat juga digunakan untuk menguatkan gigi goyah, bersama-sama dengan sirih. Air rendaman biji pinang muda digunakan untuk obat sakit mata oleh suku Dayak Kendayan, dikecamatan Air Besar Kalimantan Barat.   Sementara bagi masyarakat Papua umumnya, pinang muda digunakan bersama dengan buah sirih untuk menguatkan gigi. Selain sebagai obat penguat gigi, masyarakat pesisir pantai desa Assai dan Yoon-noni, yang didiami oleh suku Menyah, Arfak, Biak dan Serui (Papua), biji pinang muda digunakan sebagai obat untuk mengecilkan rahim setelah melahirkan oleh kaum wanita dengan cara memasak buah pinang muda tersebut dan airnya diminum selama satu minggu.   Umbut pinang muda digunakan untuk mengobati patah tulang, dan sakit pinggang (salah urat). Selain itu umbut dapat juga dimakan sebagai lalab atau acar.

 

Daun pinang berguna untuk mengatasi masalah tidak nafsu makan, dan sakit pinggang. Selain sebagai obat, pelepah daun digunakan untuk pembungkus makanan dan bahan campuran untuk topi.   Sabut pinang rasanya hangat dan pahit, digunakan untuk gangguan pencernaan, sembelit dan edema.   Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0 ,3 – 0 ,6 %, alkaloid, seperti arekolin (C 8 H 13 NO 2 ), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga mengandung red tannin 15 %, lemak 14 % ( palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50 % lebih banyak alkaloid dibandingkan biji yang telah mengalami perlakuan. Arekolin selain berfungsi sebagai obat cacing juga sebagai penenang, sehingga bersifat memabokkan bagi penggunanya. Mengingat kandungan kimia tanaman pinang (alkaloid arekolin) mengandung racun dan penenang sehingga tidak dianjurkan untuk pemakaian dalam jumlah besar.

Berikut detail cara dan penggunaanya:

Biji (Binglang):
– Cacingan: taeniasis, fasciolopsiasis.
– Perut kembung akibat gangguan pencernaan.
– Bengkak karena retensi cairan (edema).
– Rasa penuh di dada.
– Luka.
– Batuk berdahak.
– Diare.
– Terlambat haid, Keputihan.
– Beri-beri, edema. Malaria.
– Memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma.

Daun:
– Tidak napsu makan.
– Sakit pinggang (lumbago).

Sabut:
– Gangguan pencernaan (dyspepsia).
– Sembelit.
– Edema dan beri-beri.

PEMAKAIAN:
Untuk minum: 5-10 g biji kering atau 5-10 g sabut, rebus.
Pemakaian luar : Biji secukupnya direbus, airnya untuk mencuci luka dan infeksi kulit lainnya.

CARA PEMAKAIAN:
1. Cacingan:
30 g serbuk biji pinang direbus dengan 2 gelas air, didihkan
perlahan-lahan seiama 1 jam. Setelah dingin disaring, minum
sekaligus sebelum makan pagi.

2. Luka: Biji ditumbuk halus, untuk dipakai pada luka.

3. Kudis:
Biji pinang digiling halus, tambahkan sedikit air kapur sirih sampai
menjadi adonan seperti bubur. Dipakai untuk memoles bagian tubuh
yang kudis.

4. Koreng:
Pinang, gambir, kapur sirih masing-masing sebesar telur cecak,
tembakau sebesar ibu jari dan 1 lembar daun sirih segar.
Bahan-bahan tersebut dicampur ialu digiling halus. Lumurkan pada
koreng yang telah dibersihkan.

5. Disentri:
Buah pinang yang warnanya kuning muda dicuci lalu direndam dalam
1 gelas air selama beberapa jam. Minum air rendaman pinang.

6. Membersihkan dan memperkuat gigi dan gusi:
Biji pinang diiris tipis-tipis. Kunyah setiap hari selama beberapa
menit, lalu ampasnya dibuang.

7. Sakit pinggang:
Daun secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Tambahkan
minyak kelapa secukupnya, panaskan sebentar di atas api. Hangat-
hangat dipakai untuk mengompres bagian pinggang yang sakit.

8. Difteri:
1 butir biji pinang kering digiling halus, seduh dengan 3/4 cangkir
air panas dan 1 sendok makan madu. Setelah dingin dipakai untuk
kumur-kumur di tenggorokan selama 2-3 menit, lalu dibuang.
Lakukan 3 kali sehari.

Efek samping:
Senyawa alkaloid yang dikandung pada buah cukup berbahaya untuk sistem syarat. Yang umum terjadi adalah mual dan muntah (20-30%), sakit perut, pening dan nervous. Untuk mengurangi kejadian muntah, minumlah rebusan obat setelah dingin. Efek samping yang jarang terjadi adalah luka pada lambung yang disertai muntah darah.
Tanda-tanda kelebihan dosis: Banyak keluar air liur (qalivation), muntah, mengantuk dan seizure.
Pengobalan: Cuci lambung dengan larutan potassium permanganate dan injeksi atropine. Untuk mengurangi efek racunnya, pemakaian biji pinang sebaiknya yang telah dikeringkan, atau lebih baik lagi bila biji pinang kering direbus dahulu sebelum diminum. Kebiasaan mengunyah biji pinang, dapat meningkatkan kejadian kanker-mukosa pipi (buccal cancer).

 

Tanaman Panili

Tanaman panili atau si Emas Hijau merupakan komoditi yang menjanjikan. Namun tidak semua panili berharga “emas”, hanya kualitas terbaiklah yang diberikan harga istimewa.

SYARAT PERTUMBUHAN
Panili dapat hidup di iklim tropis, curah hujan 1000-3000 mm/tahun, cahaya matahari + 30%-50%, suhu udara optimal 200C-250C, kelembaban udara sekitar 60%-80%, ketinggian tempat 300-800 m dpl. Tanah gembur, ringan yaitu tipe tanah lempung berpasir (sandy loam) dan lempung berpasir kerikil (gravelly sandy loam), mudah menyerap air, pH tanah + 5,7 – 7.
PEMBIBITAN
1. Seleksi Bibit
– Jenis panili bernilai ekonomi yaitu Vanilla planifolia Andrews, Vanilla tahitensis JW. Moore, Vanilla pompana
– Syarat bibit generatif : tulen, punya sifat yang hampir sama dengan induknya; murni, biji tidak tercampur dengan yang berkualitas jelek; biji dalam kondisi segar dan sehat; bibit vegetatif : tanaman induk sehat dan cukup umur, sudah mengeluarkan sulur dahan yang kuat, tanaman induk belum atau jangan sampai berbuah.
2. Penyiapan Bibit
– Bibit generatif berasal dari biji yang unggul.
– Bibit Vegetatif dengan stek, mempercepat perakaran stek dapat direndam HORMONIK (1-2 cc/liter) kemudian dibiarkan agak layu baru ditanam dan disiram POC NASA (2-3 ttp) + HORMONIK ( 1 ttp) per 10 liter air.
– Kulture Jaringan.
3. Teknik Penyemaian Benih
Bibit disemai dalam tanah berpasir supaya akar mudah tumbuh. Tempat penyemaian harus teduh.
4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Penyiraman setiap hari, tidak boleh terlalu basah. Bibit yang jelek disingkirkan. Setiap seminggu sekali semprot dengan POC NASA (2-3 tutup) + HORMONIK ( 1 tutup) per tangki (14-17 liter).
5. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit ke lapangan tergantung asal bibit, yaitu bibit stek sekitar umur 1-2 bulan, bibit biji waktunya lama.
PENGOLAHAN MEDIA TANAM
– Pengolahan lahan dikerjakan pada pertengahan musim kemarau supaya pohon pelindung dapat ditanam, cek kondisi tanah.
– Bersihkan lahan dari gulma dan dibajak.
– Buat jalur bedengan, lebar 80-120 cm dan lebar parit 30-50 cm.
– Lakukan pengapuran bila kondisi tanah terlalu asam.
PENANAMAN
– Penanaman di tengah bedengan, pola tanam monokultur.
– Buat lubang tanam dekat tanaman penegak berukuran panjang, lebar dan dalam antara 20x15x10 cm, 25x20x12 cm dan 30x25x15 cm.
– Tanam stek dengan cara memasukkan 3 ruas seluruhnya ke dalam lubang secara mendatar agar akar tumbuh cepat dan sempurna
– Tutup dengan tanah galian yang dicampur dengan pupuk kandang.
– Stek bibit bagian atas yang tidak terbenam dalam tanah diikat pada pohon panjatan dengan ikatan longgar.
– Waktu tanam stek bibit yang baik pada awal musim hujan. Sedangkan stek yang akan ditanam sebaiknya dibiarkan / dilayukan terlebih dahulu selama 4 – 7 hari dan pangkal stek bibit direndam dalam POC NASA / HORMONIK (1-2 cc/liter) + Natural GLIO untuk menghindari pembusukan.
PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penyulaman 
Lakukan pengecekan setelah umur 2-3 minggu setelah tanam, apabila ada stek yang tumbuh kurang baik, segera disulam.
2. Penyiangan dan Pembubunan
Penyiangan dilakukan sebulan sekali sesudah penanaman sampai pertumbuhan panili tidak kerdil dan terlambat. Pembubunan bersamaan dengan penyiangan untuk menjaga bedengan tetap rapi dan tanah tetap gembur agar air mudah terserap.
3. Perempelan 
– Perempelan bentuk, memotong 15 cm dari tanaman yang dilengkungkan dan sisakan 3 cabang terbaik untuk dipelihara agar terbentuk kerangka tanaman kuat dan seimbang.
– Perempelan produksi, memotong pucuk sepanjang 10-15 cm menjelang musim berbunga dan saat berbuah untuk merangsang pertumbuhan generatif terutama pertumbuhan bunga dan buah.
– Perempelan peremajaan, memotong cabang-cabang yang sudah pernah berbuah dan cabang-cabang yang sakit.
4. Pemupukan
– Tebar pupuk makro di sekitar pohon dan timbun dengan tanah karena sistem perakaran panili cukup dangkal. Kebutuhan pupuk makro per ha per tahun adalah Urea 8 kg, TSP 4 kg, KCl 14 kg, CaCO3 5 – 10 kg, MgSO4 H2O 2,5 – 5 kg/ha/tahun dan pupuk kandang 10-20 kg/pohon/tahun.
– Pemupukan diberikan setahun sekali. Akan lebih baik jika dikocor dengan SUPER NASA dosis + 0,5 sdm / 5 lt air per pohon setiap 3 bulan sekali dan penyemprotan POC NASA dosis 4-5 tutup/tangki setiap 2 – 4 minggu sekali atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-4 minggu sekali.
5. Pengairan dan Penyiraman
Tanaman panili tidak tahan terhadap kekeringan sehingga pada musim kemarau perlu disiram secukupnya untuk merangsang pertumbuhan tanaman, perkembangan bunga serta buah.
6. Pemberian Mulsa & Pendangiran
Pemberian mulsa dapat dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pendangiran. Bahan mulsa dari hasil pemangkasan pohon pelindung, tetapi bisa juga serbuk gergaji yang diletakkan di atas permukaan tanah dekat pohon panili.
7. Perambatan
Sistem pagar sulur-sulur, tanaman panili dibiarkan menjalar pada pagar yang telah dipasang secara horisontal. Pagar tempat menjalarnya panili dapat dibuat dari bambu yang diikatkan pada pohon yang satu dengan pohon yang lain.
Sistem perambatan penunjang tunggal, tanaman panili dirambatkan lurus ke atas pada naungannya.
8. Pemangkasan Pohon Pelindung 
Pohon pelindung dapat digunakan Glyricidia maculate, lamtoro dan dadap. Pemangkasan cabang dilakukan untuk mempertahankan agar tetap teduh, mempermudah sistem sirkulasi dan mengatur intensitas sinar matahari.
9. Pembungaan dan Penyerbukan 
Panili berbunga setelah berumur 1,5-3 tahun, bunga yang muncul berupa dompolan dan akan mekar satu bunga secara bergantian. Mekarnya bunga hanya berlangsung 12 jam, yaitu mulai pukul 24:00 sampai menjelang tengah hari, sesudah itu bunga mulai layu dan mati. Oleh karena itu penyerbukan bunga dilakukan sekitar pukul 08:00 sampai 10:00. Penyerbukan buatan pada prinsipnya adalah mengangkat/memotong bibir yang membatasi kepala sari dan kepala putik, kemudian benang sari ditekan ke kepala putik untuk dilakukan penyerbukan. Seminggu setelah penyerbukan semprot dengan dosis POC NASA (3-4 tutup) dan HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-3 minggu sekali.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
a. Hama
1. Bekicot 
Menyerang dan merusak batang, bunga dan buah. Aktifitasnya dilakukan pada malam hari. Pengendalian: secara manual dengan mengambil dan mengumpulkan bekicot satu persatu kemudian dibakar sekaligus dalam satu lubang.
2. Belalang pedang
Merusak/memakan daun muda dan batang panili. Pengendalian: menyemprotkan PESTONA atau Natural BVR
3. Penggerek batang
Larva hama ini merusak/menggerek batang tanaman panili yang menyebabkan tanaman panili lambat laun layu dan mati. Pengendalian penyemprotan PESTONA
4. Ulat bulu jambul dan ulat geni
Merusak bagian pucuk, daun, batang dan bunga. Pengendalian: penyemprotan PESTONA
b. Penyakit1. Busuk akar
Gejala: akar hitam, tanaman menjadi kecoklat-coklatan dan akhirnya mati; biasanya terjadi pada saat produksi tertinggi pertama kali tercapai. Pengendalian: menjaga kesuburan tanah dengan pemupukan, pemberian kapur secukupnya, dan mengatur kelembaban , pencegahan diawal dengan Natural GLIO.
2. Busuk batang
Penyebab: jamur Fusarium batatatis. Gejala: pada batang terjadi bercak-bercak berwarna hitam yang akan meluas dan melingkar dengan cepat. Batang terserang akan keriput, berwarna coklat dan akhirnya kering. Pengendalian: mengurangi kelembaban dan drainase yang baik, saat stek akan ditanam dicelup dalam POC NASA + Natural GLIO.
3. Busuk buah
Ditemukan pada buah panili muda. Gejala: muncul bila menyerang pangkal buah muda sehingga banyak buah yang berguguran dan bila menyerang tengah buah akan hitam, kering selanjutnya mati. Pengendalian: penyemprotan Natural GLIO + gula pasir dosis 1-2 sendok teh per 10 liter air.
4. Busuk pangkal batang
Penyebab: Jamur Sclerotium sp. Gejala: pangkal batang tampak berwarna coklat dan kebasah-basahan, bagian tanaman yang diserang dan tanah sekitar terdapat misellium jamur berwarna putih seperti bulu dengan banyak sclerotium warna coklat. Pengendalian: gunakan bibit bebas busuk pangkal batang, penyemprotan Natural GLIO + gula pasir.
5. Bercak coklat pada buah
Penyebab: oleh cendawan Phytophthora sp. dan menyerang buah panili yang hampir masak. Gejala: bercak-bercak coklat tua dan akhirnya busuk. Pengendalian: (1) segera petik buah terserang kemudian membakarnya; (2) penyemprotan dengan Natural GLIO dosis 1-2 sendok/10 liter air.
6. Bercak coklat pada batang
Penyebab: cendawan Nectria vanilla, zimm. Gejala: batang tampak bercak coklat yang lama-kelamaan menghitam dan melingkar ruas dan mati. Pengendalian: potong dan bakar batang yang terserang.
7. Antraknosa
Penyebab: jamur Calospora vanillae, Mass. Gejala: batang, daun, buah berwarna coklat muda kekuningan tampak licin dan terlihat jelas bagian terserang dan tidak. Pengendalian: Potong dan bakar bagian terserang, atur kelembaban dan drainase.
8. Karat merah
Penyebab: Ganggang Cephaleuros heningsii, Schm. Gejala: bercak pada daun dan terus meluas hingga daun kering selanjutnya mati. Pengendalian: Singkirkan bagian terserang dan atur kelembaban kebun dengan pemangkasan pohon pelindung.
9. Penyakit pascapanen
Penyebab penyakit yang menyerang panili setelah dipanen : jamur Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, sp dan Sclerotium, sp. Pengendalian: penanganan pasca panen yang baik.
Catatan : Jika Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum dapat mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dn tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis 1-2 tutup/tangki.
E. PANEN DAN PASCA PANEN
– Pemetikan pada umur 240 hari (8 bulan) akan menghasilkan panili kering dengan kadar vanillin yang tinggi, kadar abu terendah, rendemen tertinggi dan kadar air yang aman
– Ciri-ciri panili siap dipanen yaitu warna berubah dari hijau tua mengkilap menjadi hijau muda suram dengan garis-garis kecil warna kuning yang lambat laun melebar sampai ujung buah
– Musim panen antara bulan Mei sampai Juli, sekitar 2 – 3 bulan
– Cara panen yang terbaik adalah memetik satu-persatu buah masak tanpa mengganggu buah lain dalam satu tandan yang masih mentah untuk menjaga mutu panili.
– Buah dikumpulkan dalam keranjang bambu dan dijaga agar buah tidak terluka atau cacat dan sortir berdasar ukuran, bentuk, tingkat kemasakan dan buah yang cacat >20 cm
– Lakukan pelayuan untuk menghentikan proses respirasi yang terjadi dalam buah, mematikan sel-sel buah panili tanpa mengurangi aktifitas dan kadar enzim dalam buah. Proses pelayuan dengan menggunakan alat perebus yang diisi air ¾ bagian dengan suhu antara 65-950 C
– Lakukan pemeraman dalam kotak khusus yang lengkap dengan tutup dan karung goni sebagai alasnya, utuk pembentukan aroma selama + 48 jam
– Lakukan pengeringan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari, dioven dan diangin-anginkan untuk mengurangi kadar air hingga 25-30 %
– Tempatkan buah panili kering dalam kotak yang dalamnya telah dilapisi kertas koran/karung plastik tipis dan simpan pada suhu kamar, siap dikirim dan dijual.

Budidaya tanaman Kencur

 

 

 

 

 

BUDIDAYA  TANAMAN  KENCUR

( Kaempferia galanga L. )

I.       PENDAHULUAN

Tanaman Kencur ( kaempferia galanga L. ) termasuk kedalam famili jahe-jahean Zingiberaceae yang merupakan tumbuhan asliIndia dengan daerah penyebaran meliputi kawasan Asia Tenggara dan Cina.

Sifat dan bentuk tanaman yaitu berbatang semu, jumlah daun 2-3 helai, warna bunga putih, umbi berwarna kuning kecoklatan dan banyak mengandung air.   Komposisi umbi terdiri dari pati 4,14%,  mineral sebanyak 13,73% serta minyak atsiri  2,4-3,9% yang terdiri dari cineol,  asam methyl,  aldehide,  ethyl,  ester  dan lain-lain.

Manfaat rimpang kencur sebagai bumbu penyedap juga sebagai obat tradisional, oleh karenanya banyak petani yang mengusahakan di pekarangan maupun di tegalan baik secara monolkultur ataupun secara tympang sari, sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani.

Pada saat ini kencur banyak dalam industri rokok, jamu dan kosmetika dengan perkiraan kebutuhan dalam negeri untuk ketiga komponen tersebut sebesar 10 ton cip kencur kering atau setara dengan 100 ton rimpang basah.

II.      SYARAT TUMBUH

2.1.  Iklim

–       Tinggi tempat    :50 m–1.000 mdpl.

–       Intensitas cahaya           : Sedikit terlindung dari sinar matahari lansung

–       Curah hujan                  : 2.500 – 4.000 mm/ tahun

2.2.   Tanah

–       Jenis tanah                    : Lempung berpasir, lempung berliat.

–       Struktur                        : Remah dan kaya humus.

III.    BERCOCOK TANAM

3.1.    Klon Anjuran

–       Jenis kencur berdaun sempit

–       Jenis kencur berdaun lebar

3.2.    Pemilihan Bibit

Berasal dari pohon yang sudah tua, cara memperoleh bibit ada 2 cara :

a).     Lansung tanam

Rimpang segar setelah dipotong-potong sepanjang4 Cmlansung ditanam dilapangan tanpa disimpan dulu.

b).     Ditunaskan dulu

Rimpang setelah dipotong-potong4 Cmdisimpsn dalam gudang 1-2 minggu (sampai tunas bermunculan),  ruang tempat penyimpanan harus kering,  tidak panas dan tidak terlindung.    Rimpang dihamparkan (tidak bertumpuk) di atas rak kayu atau bambu. Bibit yang baik mempunyai 2-3 buah mata tunas.

Keperluan bibit sekitar 1-2 ton / hektar dengan jarak tanam sekitar                20 X15 Cm.

3.3.    Penyiapan Lahan

–       Tanah dibersihkan dari rerumputan lalu dicangkul 2 (dua) kali.

–       Dibuat bedengan sambil diberi pupuk kandang sebanyak 10 ton/hektar.

3.4.    Penanaman

–       Penanaman pada awal musim hujan.

–       Jarak tanam 20 X15 Cm, kecuali untuk tumpang sari 60 X40 Cm.

–  Cara penanaman dengan meletakan bibit dicelup / dipping pada larutan      anti biotik agrimyoin, sterptomyoin.

3.5.    Pemeliharaan

–       Penyiangan         

Pada minggu ke II – IV setelah tanam atau tergantung keadaan.

–       Mulching

Penutupan tanah bisa denngan jerami atau ampas perasan tebu.

–       Pemupukan

Pada saat tanaman sudah membentuk daun sempurna (akhir minggu ke 4) dipupuk dengan pupuk Urea75 Kg, TSP200 Kgdan KCl100 Kgdan pada saat tanaman berumur 3 bulan dipupuk dengan Urea  sebanyak75 Kg

–       Penggemburan tanah 

Dilakukan disekitar rumput pada umur 3 bulan bersamaan dengan   pemupukan ke II.

–       Hama dan Penyakit

Hamapada tanaman kencur tidak banyak yang penting adalah  penyakit  busuk umbi oleh bakteri Pseudomonas sp.

IV.    PANEN

4.1.   Umur

–       Mulai dapat dipanen umur 6-8 bulan, dan dapat ditunda sampai musim berikutnya karena tidak akan ada efek buruk terhadap rimpang namun jika ditunda sampai musim berikutnya lagi kemungkinan rimpang akan membusuk dan kadar patinya menurun.

–       Panen sebaiknya dilakukan dalam waktu yang singkat.

–       Biasanya bila setelah cukup panen ditandai dengan daun menguning dan akhirnya gugur.

4.2.   Cara Panen

–       Membongkar seluruh rimpang dengan cangkul, garpu atau alat lainnya.

–       Mematahkan atau memotong rimpang bagian pinggir,  sisa  yang tertinggal dibiarkan tumbuh untuk musim tanam berikutnya.

4.3.    Produktivitas

–           Produksi rimpang bisa mencapai 6-10 ton /hektar.

–           Variasi produksi di pengaruhi oleh kesuburan tanah, jenis kencur dan pemeliharaan selama penanaman

  1. PENGOLAHAN HASIL

Hasil lahan kencur bisa berupa  rimpang basah dan rimpang kering. Pada Pengolahan Rimpang basah, rimpang hanya dibersikan,  dikering anginkan, dikemas lalu diangkut.

Pada pengolahan rimpang kering terdapat proses pengeringan, pencelupan dan pengeringan.

Manfaat kencur

Kencur

Tanaman ini mengandung : minyak atsiri: borneol, methyl-p-curamic acid, cinnamicacid ethyl ester, pentadecane, cinnamic aldehyde, camphene.

Kegunaan :

Obat tetanus: Siapkan rimpang kencur sebesar 3 jari. Tambahkan daun jinten setengah genggam dan daun ngokilo 18 lembar. Cuci bersih ramuan dan potong-potong seperlunya. Rebuslah dengan 3 gelas air bersih. Tambahkan 3 jari gula enau. Biarkan air perebusan hingga sekitar 3/4-nya. Air rebusan didinginkan, baru disaring dan diminum sebanyak 3/4 gelas. Sebaiknya ramuan ini diminum 3 kali sehari.

Kertacunan tempe bongkrek: Bahan yang disiapkan ialah rimpang kencur 1/2 jari, daun sambiloto 1/4 genggam, daun kumis kucing 1/3 genggam. Bahan dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya. Rebuslah bahan dengan 2 gelas air bersih hingga tinggal 1/4-nya. Dinginkan airnya lalu disaring. Minum 1-2 kali sehari. Sekali minum cukup 3/4 gelas.

Muntah-muntah: Siapkan 1,5 jari kencur. Cuci bersih lalu berikan untuk dikunyah penderita bersama sedikit garam. Sesudah halus kencur ditelan dan kemudian minum air hangat. Lakukan 2 kali sehari.

Keracunan jamur: Ambillah rimpang kencur 1 jari, daun sambiloto 1/3 genggam, dan daun jintan 1/4 genggam untuk mengobatinya. Tumbuk bahan sampai halus dan tambahkan air masak 3/4 gelas. Peras dan saringlah. Lantas minumkan ke penderita yang sudah muntah-muntah. Cukup diminum sekali sehari.

Khasiat lain: Jamu beras kencur biasa diminum untuk menambah daya tahan tubuh, menghilangkan masuk angin, dan kelelahan. (mrd)

Batuk. a> 3 potong kencur @ sebesar jari dicuci, kupas, parut, masukkan setengah gelas air dan garam, peras dengan kain. Minum setiap pagi dan sore @ 1 resep. b> Sepotong kencur sebesar jari, dicuci, kupas dan kunyah sampai lumat, airnya ditelan. Lakukan setiap pagi. c> Sepotong kencur sebesar jari dicuci, parut, beri 2 sendok makan air, peras airnya dengan kain. Cukup untuk 1 kali minum. Minum 2 kali selama beberapa hari. (4)

Sakit perut. Sepotong kencur sebesar jari dicuci, parut, beri 2 sendok makan air, peras airnya dengan kain. Cukup untuk 1 kali minum. Minum 2 kali selama beberapa hari. Untuk anak-anak gunakan setengah dosis. (4)

Batuk asmatis. a> 3 potong kencur @ sebesar jari, 7 tangkai patikan kerbau (Euphorbia hirta L.), 1 cangkir daun pegagan/antanan. Semua dicuci, haluskan, beri 1/2 gelas air, saring, beri gula batu. Minum sekali sehari sebelum sarapan. Ulangi sampai sembuh. b> Sepotong kencur sebesar jari, bebearpa helai daun sirih, beberapa batang akar alang-alang dicuci, lumatkan kencur. Rebus semua dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah, saring, beri gula batu. Bila akan diminum, beri sedikit air jeruk nipis. Minum pada sore hari. (4)

Bengkak (untuk ditempelkan). a> Kencur dicuci, lumatkan, tempelkan ke tempat yang bengkak, balut. Ganti dengan ramuan baru 2 kali sehari. b> Sepotong kencur sebesar jari, setengah biji pinang, asam kawak sebesar telur burung puyuh, 5 helai daun dadap, dicuci, lumatkan, tempelkan ke bagian yang bengkak, lalu dibalut. Ganti dengan ramuan baru 2 kali sehari. (4)

Jerawat. Sepotong kencur sebesar jari, sepotong temu lawak sebesar jari, 5 butir jintan, dicuci, lumatkan bersama sebuku jari asam kawak dan gula aren, seduh dengan segelas air. Setelah suam-suam kuku disaring dengan kain dan diberi air jeruk nipis. Minum pagi hari. Sebelum tidur wajah dicuci dengan air asam kawak atau air jeruk nipis. (4)

Nyeri haid. 2 potong kencur @ seibu jari, cuci, parut, rebus dengan 2 gelas air bersama sehelai daun trengguli, 1 cengkih dan 1/2 sendok teh adas sampai airnya tinggal setengah, saring. Untuk diminum separuh pagi dan separuh sore. (4)

Sakit perut saat diare (untuk ditempelkan). 2 potong kencur masing-masing sebesar jari, 3 bawang merah, kupas, parut. Bungkus dengan daun pisang, garang di atas api. Hangat-hangat dioleskan ke perut yang sakit.(4)

Masuk angin. Sepotong kencur dicuci, kupas, makan sebagai lalap. Lakukan 2 kali sehari. (4)

Migrain. Sepotong kencur sebesar jari, jahe 3 cm, lempuyang 3 cm, 1/2 sendok teh adas, 5 cm pulasari, cuci, lumatkan, beri 6 sendok makan air, saring dengan kain, beri madu. Minum 3 kali sehari @ 2 sendok makan. (4)

Pilek. Sepotong kencur sebesar jari, 2 bawang merah dikupas, cuci dan parut, beri 3 sendok makan air, peras. Airnya diminum 3 kali sehari. (4)

Pegal-linu. 7 potong kencur sebesar jari dicuci, kupas, memarkan rebus dengan 2 gelas air sampai airnya tinggal setengah, saring. Rebus 2 ons gula aren dengan 2 gelas air sampai larut, saring. 2 potong jahe sebesar ibu jari dicuci, kupas, memarkan. 5 butir kapulaga dicuci, 2 sendok makan penuh beras dicuci, angin-angin sampai kering, sangrai, haluskan, lalu diayak. Air kencur, air gula, jahe, kapulaga direbus besama, saring dan biarkan dingin, masukkan tepung beras halus. (4)

 SUMBER :

Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus Agriwidya, 1999.

Muhlisah, Fauziah. Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : Penebar Swadaya, 1999.

Tampubolon, Oswald T. Tumbuhan Obat. Jakarta : Penerbit Bhratara, 1995.

Tanaman Obat Keluarga. Jakarta : PT. Intisari Mediatama, 1999.

Kursi Lipat kombinasi

Kursi Lipat kombinasi tanpa tanganan

Folding Chair combinasi

Negara Asal: Indonesia
Harga: Rp 115.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Cara Pembayaran: Transfer Bank (T/T)
Keterangan: kursi lipat dengan tanganan,  bahan dari kayu jati solid.  harga yang kompetitif dan terjangkau dengan kualitas. Silahkan pesan Via sms / call: 085225116686 / email: flasdisku@yahoo.co.id