tanaman kentang

SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

2.2. Media Tanam
Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
– Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
– Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

3.2. Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pemupukan Dasar
a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).
b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.
Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.
c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

3.3.2. Cara Penanaman
Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.

3.4.3. Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.

3.4.4. Pemupukan Susulan
a. Pupuk Makro
Urea/ZA: 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.
SP-36: 21 hst 250 kg/ha.
KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.
Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.
b. POC NASA: mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.
Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
Alternatif II : 5 – 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.
c. HORMONIK : penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

3.4.5. Pengairan
Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama

Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.

Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus. Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.

Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: Pengocoran Pestona.

Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian : Pengocoran Pestona.

Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR.

3.5.2. Penyakit
Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam

Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam

Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

3.6. Panen
Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.

ketela rambat

Ubi jalar/ketela rambat/telo adalah sejenis tanaman yang akarnya dapat dimakan, mengandung pati, sukrosa, selulosa dan karbohidrat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Ubi jalar/ketela rambat/telo juga kaya akan kandungan prebiotik, serat dan antioksidan. Semakin pekat warnanya, semakin banyak kandungan antioksidannya. Ubi jalar/ketela rambat/telo mempunyai beragam warna, ada yang berwarna ungu, merah, kuning dan putih. Warnanya tergantung pada jenisnya, jenis tanah, iklim dan mineralnya. Jenis umbi-umbian yang paling terkenal adalah ubi jalar/ketela rambat/telo, karena dapat diolah menjadi aneka makanan, minuman dan jus.

Ubi jalar/ketela rambat/telo diduga berasal dari benua Amerika (Selandia Baru, Polinesia dan Amerika bagian tengah). Ubi jalar/ketela rambat/telo mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama Negara-negara beriklim tropis yaitu pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkannya ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang dan Indonesia.
Bagian-bagian dari ubi jalar/ketela rambat/telo yang bisa dimanfaatkan:
1. Daun : untuk sayuran, pakan ternak
2. Batang : untuk bahan tanam, pakan ternak
3. Kulit ubi : untuk pakan ternak
4. ubi segar : untuk bahan makanan
5. Tepung : untuk makanan
6. Pati : untuk dermentasi, pakan ternak, asam sitrat

Khasiat Ubi jalar/ketela rambat/telo bagi tubuh:

  1. Untuk kekebalan tubuh/ penguat sistim imun: Kaya akan beta karoten, antioksidan, serta berbagai nutrisi lain seperti vitamin C, vitamin B kompleks, besi dan fosfor.
  2. Untuk menyembuhkan Kanker: Mengandung beta karoten, antioksidan, Vitamin C dan anti karsinogen utama yang penting untuk menyembuhkan berbagai jenis kanker. Terutama kanker kolon, usus halus, prostat, ginjal dan kanker pada organ dalam lainnya.
  3. Peradangan: Mengandung anti peradangan dengan adanya beta karoten, vitamin C dan magnesium.
  4. Diabetes: Kandungan gula dalam ubi jalar/ketela rambat/telo sangat efektif dalam meregulasi kadar gula darah dengan membantu sekresi dan fungsi insulin. Penderita diabetes dapat mengganti nasi atau karbohidrat dengan ubi jalar/ketela rambat/telo.
  5. Untuk meredakan Asma: Efektif dalam mengatasi hidung tersumbat dan sakit paru-paru dengan adanya aroma khas yang dimiliki ubi jalar.
  6. Untuk menyembuhkan Bronchitis: Kandungan vitamin C, besi serta nutrisi lainnya membantu menyembuhkan bronchitis. Ubi jalar juga dipercaya bisa menghangatkan tubuh (mungkin karena rasa manis serta nutrisi lainnya).
  7. Penambahan berat badan: Dengan rasa yang manis serta mengandung karbohidrat kompleks, vitamin dan mineral yang mudah dicerna, karenanya ubi jalar merupakan sumber energi yang efektif untuk membangun otot-otot.
  8. Mengatasi radang lambung: Dapat menimbulkan efek nyaman di lambung dan usus halus. Vitamin B kompleks, Vitamin C, beta karoten, kalium dan kalsium sangat efektif meredakan radang lambung. Selain itu, serat yang dikandung ubi jalar bisa mencegah terjadinya konstipasi dan penimbunan asam yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya radang lambung.
  9. Arthritis: Beta karoten, magnesium, seng dan vitamin B kompleks membuat ubi jalar sebagai pilihan yang tepat untuk mengatasi arthritis. Air rebusannya bisa dioleskan pada persendian untuk meredakan sakit akibat arthritis.
  10. Untuk Pencernaan: Kandungan serat dalam ubi jalar/ketela rambat/telo lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kentang pada umumnya karena itu ubi jalar juga mudah untuk dicerna serta baik untuk lambung dan usus halus.
  11. Untuk Keseimbangan air: Serat dalam ubi jalar/ketela rambat/telo akan membantu menahan air dan dapat mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh.
  12. Efektif menghentikan ketergantungan pada rokok, minuman serta narkotika tertentu. Selain itu, juga sangat baik bagi kesehatan pembuluh darah vena dan arteri. Konsentrasi beta karoten yang tinggi serta fosfor sangat baik bagi kesehatan mata dan kardiovaskular.

Ubi jalar/ketela rambat/telo bisa digunakan untuk mengatasi kencing manis (diabetes mellitus), penyakit kuning, keseleo, luka terpukul, eksim, bisul, herpes, sakit tenggorokan, masuk angin, perut kembung, rematik, asam urat, pegal linu, dan lain-lain. Efek farmakologisnya berkhasiat sebagai tonik, yaitu untuk menghentikan perdarahan. Bagian yang bisa dimanfaatkan adalah ubi dan daun.

Sayur Turi

Sayur pucuk atau daun turi yang saya ketahui adalah sangat sedap dan versatile cara masakannya.

Sayur turi atau nama dikenali sebagai pucuk geti. Pokoknya mudah tumbuh, dan senang didapati.

Pucuk atau daun turi dicelur dan di lurutkan daunnya dan dimakan bersama sambal air asam jawa yang dibancuh pekat dan dicampur dengan cili boh ditambah gula dan garam secukup rasa atau dimakan dengan sambal belacan yang ditumbuk diperahkan air asam jawa yang pekat.

Sayur yang amat versatile, dimasak lemak berencahkan bawang dan ikan bilis atau udang kering dan ditambahkan keledek atau dimasak asam pedas yang rebuscuma berencahkan cebisan ikan bilis dan bawang merah.

Sayur ini juga dikatakan dapat mengurangkan inflamasi atau gatal hidung

Masyarakat desa suka memasak sayur ini. Ianya senang tumbuh dengan di tanam atau tumbuh disekitar rumah dikawasan keliling rumah dan sawah.

Dikatakan jus dan bunganya sayur ini dapat mengurangkan inflamasi dan gatal hidung dan batuk.

Juga dikatakan air rebusan akar digunakan untuk mengurangkan batuk dan mengeluarkan kahak.

Pucuk turi mengandungi khasiat yang tinggi, vitamin C. Setiap 100 gram bahagian yang boleh dimakan mengandungi: air 77.2 g, protein 8.4 g, lemak 1.1 g, karbohidrat 9.7 g, serat1.8 g, kalsium 181 miligram (mg), fosforus 29 mg, besi 0.3 mg, natrium 23 mg, kalium 356 mg, karotena 5022 ug vitamin A 837 ug, vitamin B1 0.06 mg, B2 0.71, niasin 2.4 mg, vitamin C 114 mg.

Pokok turi, nama saintifiknya Sesbania grandiflora sememangnya tumbuhan semula jadi di Malaysia, Indonesia, Filipina dan India. Ia tahan keadaan kemarau, tanah tidak subur atau bermasalah dan kawasan air bertakung. Lazimnya ia ditanam sebagai sayuran atau sebagai tanaman hiasan. Ada dua jenis pokok turi yang dapat dibezakan melalui warna bunganya. Satu jenis bunganya berwarna putih, yang satu lagi bunganya samar kemerah-merahan. Pokok ini hidup subur di kawasan persekitaran kampung, di tepi-tepi jalan dan di batas padi.

Sejak dulu lagi (entah berapa lama) pokok turi ini diberikan status sebagai tanaman makanan untuk orang miskin. Orang kampung tak berkira sangat, nak beli sayuran mahal kurang mampu. Jadi apa yang ada di persekitaran asalkan halal dan boleh dimakan tanpa mendatangkan apa-apa kemudaratan, makan sahaja.

Pokok turi ini sebenarnya pokok serbaguna yang mempunyai banyak kelebihan. Dari akar hinggalah ke pucuk, semuanya boleh dimanfaatkan. Ia digolongkan dalam keluarga kekacang. Pada akarnya terdapat bintil-bintil besar yang dapat mengikat nitrogen di udara dan dikatakan dapat meningkatkan mutu tanah.

Pokok turi boleh mencapai ketinggian sehingga 10 m. Batang utamanya tumbuh menegak berbentuk selinder. Keratan rentas batang ini boleh mencapai sehingga 25 cm

Batangnya dari jenis kayu putih yang lembut. Ia boleh digunakan sebagai bahan akar atau diproses untuk dijadikan kertas. Kulit batang berwarna kelabu cerah beralur-alur dan tidak begitu elok. Daunnya dari jenis pinat 15-30 cm panjang, dengan 16-30 pasang anak duan. Tangkai bunga sepanjang 2.5 cm dengan 2-4 kuntum bunga. Bentuk bunganya seperti kupu-kupu. Ia merupakan bunga terbesar dalam keluarga tumbuhan kekacang. Kelopaknya sepanjang 7-9 cm.

Di Indonesia, pokok turi ini ditanam bagi menghasilkan bahan bakar. Ia ditanam semula pada selang 5 tahun. Penanaman seluas 1 hektar dapat menghasilkan 3m3 bahan bakar untuk tempoh 2 tahun penebangan. Selain itu, batang turi juga digunakan oleh petani sebagai tiang sokongan atau para-para bagi tanaman seperti sirih, lada hitam dan vanila. Pucuk turi, bunga dan lengai yang muda boleh dijadikan sayuran yang enak. Kandungan protin kasar daun turi amat tinggi kira-kira 30%, begitu juga dengan mineral dan vitamin. Pokok turi berbunga sepanjang tahun. Bunga ini jika dicelur, rasanya seperti cendawan, tetapi bahagian tengah bunga perlu dibuang dahulu supaya hilang rasa pahitnya. Lenggai turi yang muda dan lembut boleh dimasak dan dimakan seperti kacang panjang. Biasanya panjang lenggai mencapai 50-60 cm dengan lebih kurang 50 biji benih. Kandungan protinnya tinggi iaitu 40%.

Pucuk turi pula boleh dipelbagaikan masakannya. Namun, perlu diiingat daun turi ini agak pahit. Apa juga juadah yang dihidangkan, perlu dimasak supaya hilang rasa pahitnya. Masak lemak dengan keledek atau lobak merah ataupun dibuat urap/keluban sungguh enak sekali. Pucuk turi dimakan oleh manusia, forajnya pula sungguh baik jika diberi makan kepada ternakan, terutamanya ternakan ruminan. Di Pulau Jawa pokok turi ini memang ditanam. Forajnya dijadikan makanan lembu. Pokok ini dicantas dalam tempoh tertentu, sama aras dengan ketinggian yang dapat dicapai oleh ternakan. Selepas dicantas, pokok ini cepat bertunas semula. Ia tidak mempunyai kesan keracunan terhadap makanan. Dalam kajian yang telah dijalankan di Jawa, sebanyak 1.8 kg turi segar diberi makan kepada lembu setiap hari sebagai foraj tambahan kepada diet jerami padi. Didapati pertambahan berat badan yang diperolehi setanding dengan lembu yang diberi makan diet terumus. Mengikut satu lagi kajian yang telah dijalankan di Australia, apabila pokok ini ditanam pada jarak 90 cm, ia menghasilkan 4.5 – 9.1 kg daun setahun. Apabila 12000 pokok ditanam sehektar, 50 – 100 tan daun setahun dapat dihasilkan. Dengan kandungan air 75%, bahan kering yang dihasilkan ialah sebanyak 12-25 tan setahun.

Kegunaannya sebagai foder sampingan kepada ternakan lembu amat menggalakkan. Kegunaan pokok turi bukanlah setakat batang dan daunnya sahaja, ia boleh ditanam di tepi jalan sebagai tanaman hiasan atau sebagai penanda kawasan atau pagar hidup. Dengan kanopinya yang terbuka dan melebar, ia memberikan teduhan yang nyaman. Ia juga boleh digunakan sebagai pokok pelindung kepada tanaman yang memerlukan lindungan. Daunnya yang gugur menjadi bahan sungkupan serta baja kepada tanaman lain yang berdekatan. Namun, pokok ini tidak sesuai ditanam di kawasan tiupan angin yang kuat kerana dahannya yang lembut mudah patah. Apabila pokok ini ditebang atau kulitnya dikikis, kulit pokok mengeluarkan sejenis gam yang merah jernih. Gam ini menjadi hampir hitam selepas terdedah di udara. Ia boleh digunakan sebagai pengganti gam arab dalam pelbagai jenis pelekat. Juga, ia boleh disapu pada tangsi joran supaya tangsi tersebut tahan lebih lama.

Dari segi kesihatan, akar, kulit, daun dan bunga turi boleh digunakan sebagai penawar pelbagai jenis keuzuran. Tepung akar turi dari jenis pokok berbunga merah boleh digunakan sebagai penuam atau sapuan pada bengkak sendi, lebam-lebam atau sakit akibat terseliuh bagi mengurangkan rasa sakit. Daun juga boleh digunakan dalam kaedah yang serupa. Jus bunga turi boleh digunakan untuk merawat pening kelapa dan hidup tersumbat. Di Ambon, jus bunga digunakan bagi mengubati mata yang rabun dengan cara memerah jus terus ke dalam mata. Serbuk kulit turi juga boleh digunakan bagi mengubati kudis, jangkitan kulat pada kulit dan ulser mulut serta usus. Di Jawa, tepung kulit pokok turi dijadikan bahan asas persolekan. Ekstrak kulit ini juga boleh digunakan sebagai racun lipas. Cirinya yang paling istimewa ialah kadar pertumbuhan yang amat cepat dan mudah dibiak sama ada secara tampang atau menggunakan biji benih. Boleh hidup sendiri dengan sedikit penjagaan

manfaat daun talas

TANAMAN kimpul biasa dijadikan tanaman hias di halaman rumah. Tapi juga biasa tumbuh di semak-semak kuburan, tepi sungai sehingga terkesan sebagai tanaman tidak berguna. Tapi bagi yang tahu, tanaman kimpul memiliki banyak manfaat. Bahkan bisa dibilang sebagai tanaman ampuh yang mampu mengatasi penyakit menahun. Mereka yang terkena guna-guna, kesambet, kesurupan atau ketempelan roh jahat, bisa memanfaatkan kimpul sebagai penyembuh.

Tanaman kimpul atau talas hampir sama bentuknya. Daun kimpul malah juga biasa disebut daun talas. Penemuan resep daun talas sebagai obat tradisional sebenarnya sudah diwariskan turun-temurun di lingkungan bangsawan keraton.

Resep untuk menangkal kekuatan magis ini diberikan juru sembuh yang lama berpraktik di Sukoharjo, Surakarta. Bila mendapati orang sedang ketempelan atau punya sakit menahun, misalnya, ambil 2 lembar daun talas, kemudian diolesi dengan minyak jlantah (minyak goreng bekas) kedua permukaannya. Setelah rata lalu dipanggang di atas tungku atau anglo.

Bara di atas anglo juga perlu ditaburi dupa atau kemenyan. Menurut juru sembuh tersebut, bertujuan menetralkan energi negatif yang ada disekitar ruangan, juga energi yang berada pada daun talas tersebut. Setelah hangat-hangat kuku, lalu ditempelkan pada bagian yang sakit (jika mengidap suatu penyakit) serta pada bagian perut jika ketempelan makhluk halus.

Sebelum daun talas ditempelkan, permukaan organ sebaiknya diusap dengan kapur sirih lebih dulu. Lebih baik kalau usapan itu melingkari tubuh penderita. Setelah ditempel dengan daun bakung, kemudian dililit dengan tali, bisa juga dengan menggunakan setagen. Selama proses pemanggangan sampai penempelan daun bakung, juga dilakukan pemanjatan doa pada Tuhan untuk minta kesembuhan. Dan selama itu pula kemenyan tetap dibakar.

Juru sembuh tersebut menuturkan, usaha doa mutlak diperlukan agar mendapat kesembuhan. “Sementara daun bakung, kemenyan serta injet merupakan sarana saja. Resep sederhana ini sudah saya praktikkan berkali-kali pada pasien saya,” kata juru sembuh tersebut.

Seorang wanita bernama Watik (34), misalnya, warga Semarang ini mengaku mengalami gangguan pendarahan pada vagina yang telah berlangsung lama. Bahkan sempat sempat menebarkan bau kurang sedap. Sudah bekali-kali menjalani rawat inap di rumah sakit, tapi tak juga sembuh. Bahkan juga sudah pergi ke berbagai juru sembuh. Tapi setelah menjalani terapi dengan daun talas selama 40 hari, sakitnya sembuh sedikit demi sedikit. Watik mengaku, kini penyakitnya malah sudah sembuh total.

tanaman jarak pagar dan manfaatnya

Jarak pagar, terutama bagian bijinya, memang mengandung racun yang cukup kuat sehingga lebih aman digunakan sebagai obat luar.

Ragam penyakit yang dapat ditaklukkan oleh biji tanaman asal Amerika Selatan ini cukup beragam, antara lain  menyembuhkan gatal-gatal, koreng,  jamur pada kaki, dan luka berdarah.

Selain itu, tanaman yang diharapkan mampu menjadi penghasil bahan bakar nabati ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi bengkak akibat terpukul, terkilir, dan rematik. Dengan penggunaan yang hati-hati, daun jarak pagar bahkan dapat digunakan sebagai obat pencahar ringan.

Minyak, Daun, dan Getah

Sesuai namanya, jarak pagar (Jatropha curcas) memang banyak ditanam sebagai pembatas halaman rumah alias pagar. Tanaman ini menyebar hampir di seluruh bagian dunia beriklim tropis dan dapat tumbuh di wilayah yang kurang subur serta kering sehingga dapat berperan dalam penghijauan lahan kritis.

Namun, manfaat jarak pagar yang tengah  hangat dibicarakan saat ini adalah potensinya sebagai sumber energi nabati (biofuel). Biji tanaman ini dapat diolah menjadi minyak jarak yang diproyeksikan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak bumi atau  bahan bakar fosil yang kian menipis ketersediaannya.

Sebelum ramai dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan maupun bahan bakar nabati, secara tradisional jarak pagar biasa digunakan untuk mengatasi penyakit luar.

Minyak yang terbuat dari biji jarak, digunakan untuk mengatasi gangguan pada kulit, bengkak, maupun terkilir. Minyak biji jarak pagar sebaiknya memang tidak digunakan secara oral (melalui mulut) karena mengandung racun yang membahayakan jika dikonsumsi.

Untuk mengatasi luka, dibutuhkan dua sendok teh minyak biji jarak pagar, ¼ sendok teh  belerang, sejari tangan kayu secang, dan dua sendok makan vaselin. Panaskan seluruh bahan sampai meleleh, dan aduk hingga merata. Pisahkan serutan kayu secang dan dinginkan sebelum dioleskan pada bagian yang luka.

Selain minyaknya, getah jarak pagar pun berkhasiat menghentikan perdarahan akibat luka. Getah jarak pagar bersifat antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan Escherichia coli.

Bagian lain dari jarak pagar juga dapat dimanfaatkan adalah daunnya, yaitu untuk mengatasi bengkak dan terkilir. Caranya, lumat daun jarak pagar sampai halus seperti bubur, kemudian balurkan pada bagian tubuh yang terkilir, bengkak, maupun luka.

Daun jarak pagar juga bisa mengurangi derita rematik. Untuk itu, dibutuhkan 10 lembar daun jarak segar yang telah dicuci bersih dan ditumbuk halus dengan air secukupnya. Lumuri bagian tubuh yang terkena rematik dengan bubur daun jarak dua kali sehari.

Masalah gatal di bagian kaki dapat juga diatasi dengan daun jarak pagar tapi perlakuannya sedikit berbeda. Sebelum ditempelkan pada bagian kaki yang gatal, daun jarak dilayukan terlebih dahulu di atas api kecil dan dilumatkan hingga hancur. Selanjutnya, balurkan lumatan daun jarak pagar itu pada bagian kaki yang gatal.

Mengatasi Keracunan Jarak

Tanaman jarak pagar mengandung senyawa yang daya racunnya cukup tinggi. Pada bagian biji, terkandung senyawa kursin dan toksalbumin, sedangkan di bagian daun ditemukan senyawa kaemfesterol, sitosterol, stigmasterol, amirin, dan tarakserol.

Dalam waktu singkat, gejala keracunan jarak pagar akan mulai terlihat pada orang yang mengonsumsinya. Tandanya, rasa mual, muntah, diare, sesak napas, pusing, dan berkeringat dingin.

Meskipun sudah diambil minyak, ampas biji jarak tidak bisa dipakai langsung untuk pakan ternak karena masih mengandung racun. Sebaliknya, ampas biji jarak akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membasmi nematoda tanah karena masih mengandung sifat-sifat pestisida (racun hama).

Ampas biji jarak juga mengandung unsur nitrogen, fosfat, dan kalium yang cukup baik digunakan sebagai pupuk organik.

Pemanfaatan jarak pagar dengan dimakan sebaiknya  dilakukan secara hati-hati. Untuk mengatasi sembelit, daun jarak pagar dapat berfungsi sebagai pencahar ringan.

Caranya, kukus empat helai daun jarak pagar dan konsumsi rebusan daun jarak selama tujuh hari berturut-turut atau hingga sembelit berkurang. Namun, bagi penderita gangguan empedu, sebaiknya tidak menerapkan cara ini karena malah dapat menyebabkan mual dan sakit di bagian perut (mulas).

Bila sampai terjadi keracunan jarak pagar, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah merangsang penderita segera memuntahkan isi lambung.

Selain itu, masyarakat yang telah berpengalaman menghadapi situasi ini biasanya meminumkan air masak bercampur garam sebanyak-banyaknya pada penderita untuk menetralkan racun di lambung. Beberapa bahan alami juga dapat dimanfaatkan sebagai penawar racun jarak pagar, seperti madu, gula aren, air asam, dan kelapa muda.

tanaman Pala

SEJARAH SINGKAT
Pala (Myristica Fragan Haitt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera.

MANFAAT TANAMAN

Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik.

Kulit batang dan daun
Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri.

Fuli
Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual didalam negeri.

Biji pala

Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah. Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntahmuntah dan lain-lainya.

Daging buah pala
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kKristal daging buah pala.

SYARAT TUMBUH

Iklim
Tanaman pala juga membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan agak merata/tidak banyak berubah sepanjang tahun.
Suhu udara lingkungan 20-30 derajat C sedangkan, curah hujan terbagi secara teratur sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap musim kering selama beberapa bulan. Media Tanam
Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada tanah vulkasnis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organis yang tinggi.
Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 – 6,5. Tanaman ini peka terhadap gangguan air, maka untuk tanaman ini harus memiliki saluran drainase yang baik.
Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak mengalami erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat teras-teras melintang lereng. Ketinggian Tempat

Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m dpl. Sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan rendah.

PEDOMAN BUDIDAYA

Pembibitan
Perbanyakan Cara Generatif (Biji)
Pemilihan Biji Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji yang digunakan berasal dari:
Biji sapuan: biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya.
Biji terpilih: biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu: (1) biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih. Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kw alit asnya baik.

Penyemaian

Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan melakukan penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk penyemaian harus dipilih tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olakan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.

Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh.

Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).

Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.

Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami.

Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.

Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Cangkok (Marcoteren)

Perbanyakan tanaman pala dengan cara mencangkok bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat-sifat asli induknya (pohon yang dicangkok).

Hal yang diperhatikan dalam memilih batang/cabangyang akan dicangkok adalah dari pohon yang tumbuhnya sehat dan mampu memproduksi buah cukup banyak, pohon yang sudah berumur 12–15 tahun. Batang/cabang yang sudah berkayu, tetapi tidak terlalu tua/terlalu muda.

Cara mencangkok (marcotern):
Pertama, Batang/cabang dikelupas kulitnya dengan pisau tajam secara melingkar sepanjang 3–4 cm. Posisi cangkokan sekitar 25 cm dari pangkal batang/cabang. Lendir/kambium yang melapisi kayu dihilangkan dengan cara disisrik kambiumnya, batang yang akan dicangkok tersebut dibiarkan selama beberapa jam sampai kayunya yang tampak itu kering benar.
Kedua, Ambillah tanah yang gembur dan sudah dicampuri dengan pupuk kandang dalam keadaan basah dan menggumpal. Kemudian tanah tersebut ditempelkan/dibalutkan pada bagian batang yang telah dikuliti berbentuk gundukan tanah. Gundukan tanah tersebut kemudian dibalut dengan sabut kelapa/plastik. Agar tanah dapat melekat erat pada batang yang sudah dikuliti, maka sabut kelapa/plastik pembalut itu diikat dengan tali secara kuat pada bagian bawa, bagian tengah dan bagian atas. Bila menggunakan pembalut dari palstik, maka bagian atas dan bagian bawah harus diberi lubang kecil untuk memasukkan air siraman (lubang bagian atas) dan sebagai saluran drainase (lubang bagian bawah).
Ketiga, Bila pencangkokkan ini berhasil dengan baik, maka setelah 2 bulan akan tumbuh perakarannya. Jika perakaran cangkokkan itu sudah siap untuk dipotong dan dipindahkan keranjang atau ditanam langsung di lapangan. Perbanyakan Cara Peyambungan ( Enten Dan Okulasi )

Sistem penyambungan ini adalah menempatkan bagian tanaman yang dipilih pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman bersama. Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni:

Penyambungan Pucuk (entern, grafting)

Penyambungan pucuk ini ada tiga macam yaitu :
Pertama, Enten celah (batang atas dan batang bawah sama besar)
Kedua, pangkas atau kopulasi
Ketiga, Enten sisi (segi tiga)

Penyambungan mata (okulasi)

Penyambungan mata ada tiga macam yaitu:
Pertama, Okulasi biasa (segi empat)
Kedua, Okulasi “T”
Ketiga, Forkert

Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi itu dilakukan dan jika telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambungan enten) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah dapat ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Penyusuan (Inarching Atau Approach Grafting)

Dalam sistem penyusuan ini, ukuran batang bawah dan batang atas harus sama besar (kurang lebih besar jari tangan orang dewasa). Cara melakukannya adalah sebagai berikut:

Pertama, Pilihlah calon bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran sama.
Kedua, Lakukanlah penyayatan pada batang atas dan batang bawah dengan bentuk dan ukuran sampai terkena bagian dari kayu.
Ketiga, Tempelkan batang bawah tersebut pada batang atas tepat pada bekas sayatan tadi dan ikatlah pada batang atas tepat pada bekas sayatan dan ikat dengan kuat tali rafia.

Setelah beberapa waktu, kedua batang tersebut akan tumbuh bersama-sama seolah-olah batang bawah menyusu pada batang atas sebagai induknya. Dalam waktu 4–6 minggu, penyusuan ini sudah dapat dilihat hasilnya. Jika batang atas daun-daunnya tidak layu, maka penyusuan itu dapat dipastikan berhasil. Setelah 4 bulan, batang bagian bawah dan bagian atas sudah tidak diperlukan lagi dan boleh dipotong serta dibiarkan tumbuh secara sempurna. Jika telah tumbuh sempurna, maka bibit dari hasil penyusuan tersebut sudah dapat ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Stek

Tanaman pala dapat diperbanyak dengan stek tua dan muda yang dengan 0,5% larutan hormaon IBA. Penyetekan menggunakan hormon IBA 0,5%, biasanya pada umur 4 bulan setelah dilakukan penyetekan sudah keluar akar-akarnya. Kemudian tiga bulan berikutnya sudah tumbuh perakaran yang cukup banyak. Percobaan lain adalah dengan menggunakan IBA 0,6% dalam bentuk kapur. Penyetekan dengan menggunakan IBA 0,6%, biasanya setelah 8 minggu sudah terbentuk kalus di bagian bawah stek. Kemudian jika diperlukan untuk kedua kalinya dengan larutan IBA 0,5%, maka setelah 9 bulan kemudian sudah tampak perakaran.

Pengolahan Media Tanam

Kebun untuk tanaman pala perlu disiapkan sebaik-baiknya, di atas lahan masih terdapat semak belukar harus dihilangkan. Kemudian tanah diolah agar menjadi gembur sehingga aerasi (peredaran udara dalam tanah) berjalan dengan baik. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada musim kemarau supaya proses penggemburan tanah itu dapat lebih efektif.

Pengolahan tanah pada kondisi lahan yang miring harus dilakukan menurut arah melintang lereng. Pengolahan tanah dengan cara ini akan membentuk alur yang dapat mencegah aliran permukaan tanah/menghindari erosi.

Pada tanah yang kemiringan 20% perlu dibuat teras-teras dengan ukuran lebar sekitar 2 m, dapat pula dibuat teras tersusun dengan penanaman sistem kountur, yaitu dapat membentuk teras guludan, teras kredit/teras bangku.

Teknik Penanaman

Penanaman bibit dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini untuk mencegah agar bibit tanaman tidak mati karena kekeringan, bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 3–5 batang cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat baik. Penanaman yang berasal dari biji dilakukan dengan cara sebagai berikut: polybag (kantong pelastik) di lepaskan terlebih dahulu, bibit dimasukkan kedalam lubang tanam dan permukaan tanah pada lubang tanam tersebut dibuat sedikit dibawah permukaan lahan kebun. Setelah bibit-bibit tersebut ditanam, kemudian lubang tanam tersebut disiram dengan air supaya media tumbuh dalam lubang menjadi basah.

Bila bibit pala yang berasal dari cangkok, maka sebelum ditanam daun-daunnya harus dikurangi terlebih dahulu untuk mencegah penguapan yang cepat. Lubang tanam untuk bibit pala yang berasal dari cangkang perlu dibuat lebih dalam. Hal ini dimaksudkan agar setelah dewasa tanaman tersebut tidak roboh karena sistem akaran dari bibit cangkokan tidak memiliki akar tunggang. Setelah bibit di tanam, lubang tanam harus segera disiram supaya media tumbuhan menjadi basah. Penanaman bibit pala yang berasal dari enten dan okulasi dapat dilakukan seperti menanam bibit-bibit pala yang berasal dari biji. Lubang tanaman perlu dipersiapkan satu bulan sebelum bibit ditanam. Hal ini bertujuan agar tanah dalam lubangan menjadi dayung (tidak asam), terutama jika pembuatannya pada musim hujan, lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm untuk jenis tanah ringan dan ukuran 80x80x80 cm untuk jenis tanah liat. Dalam menggali lubang tanam, lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua lapisan tanah ini mengandung unsur yang berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bagian bawah di masukkan lebih dahulu, kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang telah dicampur dengan pupuk kandang secukupnya.

Jarak tanam yang baik untuk tanaman pala adalah: pada lahan datar adalah 9×10 m. Sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9×9 m.

Pemeliharaan Tanaman

Untuk mencegah kerusakan atau bahkan kematian tanaman, maka perlu di usahakan tanaman pelindung yang pertumbuhannya cepat, misalnya tanaman jenis Clerisidae atau jauh sebelumnya bibit pala di tanam, lahan terlebih dahulu di tanami jenis tanaman buah-buahan/tanaman kelapa.

Penyulaman harus dilakukan dilakukan jika bibit tanaman pala itu mati/pertumbuhannya kurang baik.

Pada akhir musim hujan, setelah pemupukan sebaiknya segera dilakukan penyiraman agar pupuk dapat segera larut dan diserap akar. Pada waktu tanaman masih muda, pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik ( pupuk kimia sama dengan pupuk buatan) yaitu berupa TSP, Urea dan KCl. Namun jika tanaman sudah dewasa/sudah tua, pemupukan yang dan lebih efektif adalah pupuk anorganik. Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan.

Sebelum pemupukan dilakukan, hendaknya dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar 20 cm secara melingkar di sekitar batang pokok tanaman selebar kanopi (tajuk pohon), kemudian pupuk TSP, Urea dan KCl ditabur dalam parit tersebut secara merata dan segera ditimbun tanah dengan rapat. Jika pemupukan di lakukan pada awal musim hujan, setelah dilakuakan pada akhir musim hujan, maka untuk membantu pelarutan pupuk dapat dilakukan penyiraman, tetapi jika kondisinya masih banyak turun hujan tidak perlu dilakukan penyiraman.

HAMA DAN PENYAKIT

Hama:

Pertama, Penggerek batang (Batocera sp)

Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat mengalami kematian. Gejala : terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,5–1 cm, di mana didapat serbuk kayu. Pengendalian : (1) menutup lubang gerekan dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya.

Memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron 199 EC dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan alat bor, dosis yang dimasukkan sebanyak 15–20 cc dan lubang tersebut segera ditutup kembali.

Kedua, Anai-Anai / Rayap Hama anai-anai mulai menyerang dari akar tanaman, masuk ke pangkal batang dan akhirnya sampai ke dalam batang. Gejala : terjadinya bercak hitam pada permukaan batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarang dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap) akan kelihatan. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.

Ketiga, Kumbang Aeroceum fariculatus Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji pala. Imagonnya menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur akan menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan. Pengendalian: mengeringkan secepatnya biji pala setelah diambil dari buahnya.

Penyakit

Pertama, Kanker batang
Gejala: terjadinya pembengkakan batang, cabang atau ranting tanaman yang diserang. Pengendalian : membersihkan kebun dari semak belukar, memangkas bagian yang terserang dan dibakar.

Kedua, Belah putih
Penyebab : cendawan coreneum sp. yang dapat menyebabkan buah terbelahan

Ketiga, Gugur sebelum tua.
Gejala : terdapat bercak-bercak kecil berwarna ungu kecoklatcoklatan pada bagian kuliat buah. Bercak-bercak tersebut membesar dan berwarna hitam. Pengendalian : (1) membuat saluran pembuangan air yang baik; (2) pengasapan dengan belerang di bawah pohon dengan dosis 100 gram/tanaman.

Keempat, Rumah Laba-Laba
Menyerang cabang, ranting dan daun. Gejala : daun mengering dan kemudian diikuti mengeringnya ranting dan cabang. Pengendalian : memangkas cabang, ranting dan daun yang terserang, kemudian dibakar.

Kelima, Busuk buah kering
Penyebab : jamur Stignina myristicae . Gejala : berupa bercak berwarna coklat, bentuk bulat dan cekung dengan ukuran bercak bervariasi, yakni dari yang berukuran sangat kecil sampai sekitar 3 cm; pada kulit buah tampak gugusan-gugusan jamur berwarna hijau kehitam-hitaman dan akhirnya bercak-bercak tersebut terjadi kering dan keras.
Pengendalian : (1) kondisi kelembaban di sekitar pohon pala perlu dikurangi, misalnya dengan mengurang kerimbunan pohon-pohon lain di sekitar pala dengan memangkas sebagian cabang-cabangnya yang berdaun rimbun, kemudian tanah di sekitar pohon dibersihkan, tidak terdapat gulma atau tanaman-tanaman perdu lainnya; (2) buah pala dan daun yang terserang penyakit ini segera dipetik dan dipendam dalam tanah; (3) dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida secara yang rutin, yakni 2–4 minggu sekali, baik pada saat ada serangan maupun tidak ada serangan dari penyakit ini, fungsida yang dapat digunakan adalah yang mengandung bahan aktif mancozeb, karbendazim dan benomi.

Ketujuh, Busuk buah basah
Penyebab : jamur Collectotrichum gloeosporiodes, yang menyerang atau menginfeksi buah yang luka. Gejala : buah pala tampak busuk warna coklat yang sifatnya lunak dan basah; gejala ini timbul pada sekitar tangkai buah yang melekat pada buah sehingga buah mudah gugur. Pengendalian : dengan busuk buah kering.

Kedelapan, Gugur buah muda
Gejala : adanya buah muda yang gugur. Penyebab : penyakit ini belum diketahui dengan jelas. Pengendalian : dengan mengkombinasikan (memadukan) antara pemupukan dan pemberian fungisida.

PANEN

Ciri dan Umur Panen

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun. Buah pala dapat dipetik (dipanen) setelah cukup masak (tua), yakni yaitu sekitar 6–7 bulan sejak mulai bunga dengan tanda-tanda buah pala yang sudah masak adalah jika sebagian dari buah tersebut tersebut murai merekah (membelah) melalui alur belahnya dan terlihat bijinya yang diselaputi fuli warna merah. Jika buah yang sudah mulai merekah dibiarkan tetap dipohon selama 2-3 hari, maka pembelahan buah menjadi sempurna (buah berbelah dua) dan bijinya akan jatuh di tanah.

Di Daerah Banda, dikenal 3 macam waktu panen tiap tahun, yaitu: (1) panen raya/besar (pertengahan musim hujan); panen lebih sedikit (awal musim hujan) dan panen kecil (akhir musim hujan). Panen buah pala pada permulaan musim hujan memberikan hasil paling baik (berku alit as tinggi) dan bunga pala (fuli) yang paling tebal.

Cara Pemetikan

Pemetikan buah pala dapat dilakukan dengan galah bambu yang ujungnya diberi/dibentuk keranjang (jawa: sosok). Selain itu dapat pula dilakukan dengan memanjat dan memilih serta memetik buah-buah pala yang sudah masak benar.

PASCAPANEN

Pemisahan Bagian Buah

Setelah buah-buah pala masak dikumpulkan, buah yang sudah masak dibelah dan antara daging buah, fuli dan bijinya dipisahkan. Setiap bagian buah pala tersebut ditaruh pada wadah yang kondisinya bersih dan kering. Biji-biji yang terkumpul perlu disortir dan dipilah-pilahkan menjadi 3 macam yaitu: (1) yang gemuk dan utuh; (2) yang kurus atau keriput; dan (3) yang cacat.

Pengeringan Biji

Biji pala yang diperoleh dari proses ke-I tersebut segera dijemur untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Biji dijemur dengan panas matahari pada lantai jemur/tempat lainnya. Pengeringan yang terlalu cepat dengan panas yang lebih tinggi akan mengakibatkan biji pala pecah. Biji pala yang telah kering ditandai dengan terlepas bagian kulit biji (cangkang), jika digolongkan akan kocak dan kadar airnya sebesar 8–10 %.

Biji-biji pala yang sudah kering, kemudian dipukul dengan kayu supaya kulit buijinya pecah dan terpisah dengan isi biji. Isi biji yang telah keluar dari cangkangnya tersebut disortir berdasarkan ukuran besar kecilnya isi biji:
Besar: dalam 1 kg terdapat 120 butir isi biji.
Sedang: dalam 1 kg terdapat sekitar 150 butir isi biji.
Kecil: dalam 1 kg terdapat sekitar 200 butir isi biji.

Isi biji yang sudah kering, kemudian dilakukan pengapuran. Pengapuran biji pala yang banyak dilakukan adalah pengapuran secara basah, yaitu: a) Kapur yang sudah disaring sampai lembut dibuat larutan kapur dalam bak besar/bejana (seperti yang digunakan untuk mengapur atau melabur dinding/tembok). b) Isi biji pala ditaruh dalam keranjang kecil dan dicelupkan dalam larutan kapur sampai 2–3 kali dengan digoyang-goyangkan demikian rupa sehingga air kapur menyentuh semua isi biji. c) Selanjutnya isi biji itu diletakkan menjadi tumpukan dalam gudang untuk dianginanginkan sampai kering. Setelah proses pengapuran perlu diadakan pemeriksaaan terakhir untuk mencegah kemungkinan biji-biji pala tersebut cacat, misalnya pecah yang sebelumnya tidak diketahui.

Pengawetan biji pala juga dapat dilakukan dengan teknologi baru, yakni dengan fumigasi dengan menggunakan zat metil bromida (CH 3 B 1 ) atau karbon bisulfida (CS 2 ) .

Pengeringan Bunga Pala (Fuli)

Fuli dijemur pada panas matahari secara perlahan-lahan selama beberapa jam, kemudian diangin-anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli itu kering. Warna fuli yang semula merah cerah, setelah dikeringkan menjadi merah tua dan akhirnya menjadi jingga. Dengan pengeringan seperti ini dapat menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh) dan berku alit as tinggi sehingga nilai ekonomisnya pun tinggi pula.

Pemecahan Tempurung Biji

Pemecahan tempurung biji pala dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

Pertama, Dengan tenaga manusia: Cara memecah tempurung dari biji pala dilakukan dengan cara memukulnya dengan kayu sampai tempurung tersebut pecah. Cara memecah tempurung biji pala memerlukan keterampilan khusus, sebab kalau tidak isi biji akan banyak yang rusak (pecah) sehingga kulitasnya turun. Dengan mesin: Cara ini banyak digunakan petani pala. Secara sederhana dapat diterangkan bahwa mekanisme kerja dan alat ini sama dengan yang dilakukan oleh manusia, yakni bagian tertentu dari mesin menghancurkan kulit buah pala sehingga yang tinggal adalah isi bijinya. Keuntungan dari penggunaan mesin adalah tenaga, waktu dan biaya operasionalnya dapat ditekan. Disamping itu kerusakan mekanis dari isi biji juga lebih kecil.

Sumber: Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

// <![CDATA[//

tanaman buah belimbing

Budidaya Tanaman Belimbing
(Averrhoa carambola L.)

Varietas:
Belimbing Demak, Sembiring, Paris, Dewi, dll.

Iklim:
Curah hujan tinggi atau daerah musim kemarau dengan perawatan baik.

Daerah: 0 – 500 m dpl.

Tanah:
Tanah bertekstur ringan hingga berat, sedikit berpasir, berdrainase
baik, dan agak asam, pH 5,0 – 6,0.

Perbanyakan :

Penyambungan

Untuk mendapatkan bibit yang sama seperti induknya sekarang, bibit
belimbing diperbanyak dengan penyambungan. Sebagai batang atasnya
diambil dari pohon yang sudah diketahui produktifitas dan mutu
buahnya tinggi. Rata-rata bibit yang berumur satu tahun sudah dapat
mulai berbuah tetapi sebaiknya bibit yang sudah kuat pohonnya yaitu
setelah 2 – 3 tahun yang boleh untuk berbuah.

Penanaman :

Jarak tanam untuk belimbing adalah 6 x 6 m.

Lubang tanam dibuat 80 x 80 x 100 cm beberapa minggu sebelum
penanaman. Biasanya dilakukan pada musim kemarau.

Sebagai campuran untuk tanah, tempat penanaman dapat dipakai pupuk
kandang sebanyak ± 0,3 m3.
Lubang tanam yang sudah diberi pupuk dasar dan sudah diangin-
anginkan beberapa hari siap untuk ditanami. Dengan bibit yang baik
dan cara penanaman yang tepat, kita akan mendapatkan tanaman
belimbing yang mampu memberikan hasil secara optimal.
Bersamaan dengan itu, bibit yang berumur 6 – 12 bulan, bisa ditanam
di lubang ini. Karena bibit ini umumya diperlihara dalam kantung
plastik, maka sebelum ditanam buka dulu pot plastiknya secara hati-
hati. Maksudnya, agar akar bibit tidak terganggu dan tanah yang
menutup akar tidak berantakan. Posisi bibit persis di tengah lubang
dan dikubur sebatas pangkal batang. Usahakan batas penanaman ini
sejajar dengan permukaan tanah di sekitarnya, untuk mencegah
menggenangnya air bila suatu saat hujan besar. Terakhir, tanah
dipadatkan sedikit sambil disiram. Untuk mengurangi penguapan air,
tanah dapat ditutup dengan jerami atau rumput kering. Peneduh juga
sebaiknya dipasang supaya bibit yang baru tidak mati kena sengatan
panas matahari.

Pemupukan:

Dosis pupuk per pohon menurut umur tanaman

Umur tanaman (th) Pupuk kandang (m3/th) NPK 15:15:15 (gr)
0 – 1 0,3 50 (tiap 3 bulan)
1 – 2 0,3 100 (tiap 3 bulan)
2 – 3 0,4 150 (tiap 3 bulan)
>3 0,05 50 (tiap 6 bulan)

Setelah memasuki masa produksi, formulasi pupuk dapat diganti dengan
pupuk yang berkadar P dan K lebih tinggi dari N karena unsur inilah
yang banyak dipakai tanaman untuk pembentukan buah, misalnya
formulasi pupuk 10-20-20. Frekuensi pemupukan bagi tanaman yang
telah berproduksi adalah 2 kali setahun yaitu pertama pada awal
musim hujan dan yang kedua pada akhir musim hujan atau saat memasuki
musim kemarau.                                      

Pemeliharaan:

Untuk mendapatkan buah belimbing yang bagus, penampilannya mulus,
dan rasanya manis, tanaman butuh perawatan yang memadai. Perawatan
tanaman dimulai sejak bibit ditanam hingga tanaman tidak berproduksi
lagi. Perawatan itu meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan
penjarangan buah.

Penyiraman

Tanaman belimbing banyak membutuhkan air sepanjang hidupnya. Di
daerah yang sepanjang tahun mendapatkan hujan, tentu air tidak
manjadi masalah. Namun di daerah yang memiliki/mengalami musim
kering, kebutuhan tanaman akan air perlu mendapat perhatian.
Penyiraman dapat dilakukan dengan cara disiram sampai daerah sekitar
tajuk tanaman basah. Meskipun selalu butuh air, tanaman ini kurang
menyukai air tergenang. Oleh sebab itu tempat tumbuh tanaman harus
diberi sarana drainase yang baik. Bila ada kelebihan air, segera
dialirkan ke luar kebun agar tidak menggenang.

Pemberian mulsa

Untuk mempertahankan kelembaban dan untuk mengurangi penguapan air
tanah yang berlebihan, sebaiknya tanah diberi penutup. Pada umumnya
areal belimbing ditanami dengan rumput Taiwan sebagai mulsa. Rumput
yang diberikan tidak banyak dan ditanam bersamaan dengan penanaman
bibit. Seiring dengan pertumbuhan tanaman, rumput itupun berkembang.
Selanjutnya rumput dibiakkan sampai memenuhi areal penanaman
belimbing, kecuali di sekitar tajuk. Rumput-rumput lain (selain
rumput yang ditanam) yang dapat mengganggu atau merugikan tanaman
dapat dimatikan dengan manual atau herbisida selektif.

Pemangkasan dan pembuatan para-para.

1. Tujuan pemangkasan

Tujuan pemangkasan adalah untuk membentuk tajuk tanaman, meremajakan
tanaman berumur tua, membuang cabang atau ranting yang tumbuhnya
tidak beraturan, mendorong produksi buah, dan untuk memudahkan
panen. Memangkas tanaman biasanya dengan menggunakan gergaji untuk
cabang besar, gunting dahan untuk ranting.

2. Cara pemangkasan

Dilakukan dengan irisan miring ke atas. Dengan tujuan agar air
siraman maupun air hujan, langsung meluncur ke bawah. Dengan begitu
akan cepat kering, walaupun sempat terguyur. Luka pangkasan yang
lebar sebaiknya jangan dibiarkan begitu saja, tapi sebaiknya
dilumuri dengan bahan pelindung seperti parafin, cat minyak, atau
ter, sehingga luka akan terhindar dari serangan bakteri. Terutama
berlaku untuk cabang atau dahan berukuran besar.
Dengan memangkas cabang-cabang bawah, diharapkan tanaman tumbuh ke
atas. Setelah tanaman mencapai ketinggian 175 cm, pemangkasan
dihentikan dan cabang-cabang dibiarkan tumbuh semestinya.
Pada saat itu dibuat para-para/ajir yang menopang cabang-cabang
tanaman. Tujuan pembuatan para/ajir ini agar cabang dan ranting
tidak melengkung ke bawah. Para-para/ajir ini akan terasa manfaatnya
bila tanaman sudah berbuah. Cabang/ranting akan tersangga cukup kuat
dan tidak akan melengkung atau patah meski tanaman sarat dengan
buah. Agar kuat, para-para/ajir dibuat dari kayu ulin atau pipa
besi. Setelah para-para/ajir dibuat, pemangkasan dapat dilanjutkan
yaitu memangkas cabang-cabang yang tumbuh di bawah atau ke arah
bawah para-para/ajir. Sedangkan cabang-cabang yang berada di atas
para-para/ajir dibiarkan tumbuh.

Agar buah berukuran besar dan mulus

Umur 1 tahun, tanaman belimbing sudah mulai berproduksi. Untuk
mendapatkan hasil yang optimal, pembuahan perlu ditunda. Maksudnya,
buah pertama sebaiknya dibuang semua, tidak ada buah yang dibiarkan
menjadi besar. Maksudnya agar tanaman tumbuh kuat dulu, baru pada
tahun kedua buah dipelihara dan dibesarkan. Buah pertama yang
dibiarkan membesar, sering kurang baik bagi tanaman. Tanaman akan
menjadi lemah dan mudah terserang hama/penyakit. Dengan ditundanya
pembuahan tanaman akan tumbuh kuat, dan tahun-tahun selanjutnya
tanaman mampu menghasilkan buah-buah yang bagus. Agar buah berukuran
besar, maka perlu penjarangan. Bila dibiarkan begitu saja, buah
tidak bisa berkembang secara optimal. Karena distribusi makanan
diperuntukkan bagi banyak buah, dan buah tidak leluasa berkembang
karena berdesakan. Penjarangan dimaksudkan agar buah lebih leluasa
berkembang dan distribusi makanan hanya untuk buah yang dipelihara.
Dengan demikian buah akan menjadi besar. Buah yang dipelihara adalah
buah yang sehat, tidak cacat, dan tumbuh pada cabang-cabang besar.
Sedangkan buah yang tumbuh pada ranting-ranting kecil, yang cacat
atau sakit, dibuang semua. Dalam penjarangan ini diusahakan tidak
ada buah yang menggerombol atau berdempetan. Satu pohon diperkirakan
hanya ada 100 buah belimbing yang dipelihara sampai besar. Dengan
demikian, buah benar-benar tumbuh maksimal pada cabang yang kokoh
sehingga buah tidak mudah rontok, atau cabang patah. Penjarangan
dilakukan saat buah sebesar 2,5 – 5 cm atau 5 – 10 hari setelah
bunga bermekaran.
Untuk mendapatkan buah belimbing yang mulus pada saat panen nanti,
maka buah harus dibungkus. Selain untuk menghindari hama/penyakit,
khususnya hama lalat buah, pembungkusan dapat membuat buah tampak
lebih bersih dan menarik. Kapan mulai melaksanakan pembungkusan buah
di pohon? Segera setelah penjarangan, buah harus sudah dibungkus.
Pembungkusan buah di pohon hendaknya dilakukan dengan hati-hati agar
buah itu tidak lepas dari tangkainya. Sebagai pembungkusnya dapat
digunakan kertas koran. Caranya, ambil selembar kertas koran selebar
1/4 halaman, lalu digulung. Besarnya lubang gulungan itu
diperkirakan mampu memuat buah belimbing yang berkembang maksimal.
Caranya bisa menggunakan bantuan botol atau gelas yang digulungkan
pada kertas koran itu.
Setelah gulungan terbentuk, gelas/botolnya dapat ditarik keluar.
Setelah itu, dengan hati-hati buah muda di pohon dibungkus dengan
gulungan koran tadi. Bagian pangkal (tangkai buah) maupun ujungnya
dapat dijepit dengan staples. Buah dibungkus satu per satu, sampai
buah di pohon terbungkus semua.

Pengendalian Hama:

Tanaman belimbing dapat terserang hama atau penyakit yang mengganggu
pertumbuhan tanaman. Pengendlaian hama dan penyakit harus dilakukan
sedini mungkin agar kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan.

Hama

Hama yang sering menyerang tanaman belimbing adalah tungau. Hama
yang berukuran kecil ini biasanya bersembunyi di permukaan daun
bagian bawah. Tungau ini mengisap cairan tanaman dan meninggalkan
bekas titik-titik halus berwarna kecoklatan pada permukaan bawah
daun. Serangan berat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Hama
tungau hanya dapat diberantas dengan pestisida sistemik atau kontak
yang banyak tersedia. Selain itu, buah-buah muda umumnya peka
terhadap serangan lalat buah. Buah yang sudah terlanjur dihinggapi
lalat buah, tidak akan dapat diselamatkan, artinya kualitas buah
akan menurun. Satu-satunya jalan adalah mencegah serangan hama
tersebut. Untuk mencegah lalat buah, maka buah perlu dibungkus sejak
masih pentil. Sebagai tindakan pencegahan terhadap serangan hama-
hama yang merugikan, 2 minggu sekali tanaman disemprot pestisida,
yang takarannya disesuaikan dengan dosis yang tertera pada
kemasannya.

Penyakit

Kadang kala belimbing diserang cendawan jelaga yaitu pada musim
hujan dan udara lembab. Tandanya dapat terlihat jelas sebagai
lapisan hitam di atas permukaan daunnya. Untuk pencegahan dapat
dilakukan penyemprotan dengan bubuk sulfur atau bordeaux.

Pemanenan

Pada waktu pemetikan perlu dilakukan dengan hati-hati agar buah
tidak luka atau memar, karena hal ini akan mempengaruhi mutu
belimbing.
Oleh karena itu sebaiknya buah dipungut hati-hati, dengan memisahkan
buah yang kena penyakit dan buah yang sehat. Jangan dipetik terlalu
matang bila akan dikirim ke tempat jauh, dan buah yang sudah dipetik
hendaknya ditampung dalam wadah yang sebelumnya sudah dialasi dengan
kain bekas atau bahan lain seperti jerami.
Pemetikan buah dilakukan kira-kira 60 – 65 hari setelah bunga mekar,
buah berwarna kuning muda atau hijau kekuningan (kira-kira 25%
kuning dan 75% hijau). Pemetikan dilakukan pagi hari ketika suhu
udara tidak begitu panas. Agar buah tidak rusak, pemetikan hendaknya
dilakukan dengan hati-hati. Buah yang masih terbungkus koran ditarik
dengan tangan, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang atau wadah
lain yang telah disediakan. Pengumpulan buah dari kebun sebaiknya
dilakukan di tempat teduh, terlindung dari sinar matahari, agar buah
terjaga kesegarannya.

Perlakuan buah setelah panen

Buah diangkut dari kebun dan diletakkan di tempat yang teduh.
Kemudian buah dilepaskan dari bungkusnya. Buah-buah yang cacat
dipisahkan dari buah yang baik. Klasifikasi mutu buah biasanya
ditentukan oleh penampilan (kemulusan buah) dan besarnya. Belimbing
ini digolongkan dalam 3 kualitas, yaitu kualitas A, B, dan
C.Kualitas A adalah buah yang berukuran besar, 1 kg hanya berisi 4
buah. Kualitas B, per kilogramnya berisi 6 buah, sedangkan kualitas
C 8 – 9 buah.
Selain itu, buah belimbing juga diklasifikasikan berdasarkan
warnanya. Indeks warna 1, buah berwarna hijau penuh. Indeks warna 2,
buah berwarna hijau kekuningan (warna kuning kurang dari 25%).
Indeks warna 3, buah yang memiliki warna kuning 26 – 55 %. Indeks
warna 4, buah yang memiliki warna kuning 76 – 100%. Yang terakhir,
indeks warna 5, sepenuhnya berwarna orange.
Pemisahan berdasarkan warna ini biasanya untuk tujuan ekspor. Buah
yang memiliki indeks warna 1 tidak layak untuk dijual karena rasanya
masih asam dan kelat. Buah berindeks warna 2 dan 3 adalah buah
belimbing yang cocok untuk ekspor karena masih bisa tahan lama dan
rasanyapun enak. Sedangkan buah yang memiliki indeks warna 4 dan 5,
tidak sesuai untuk ekspor, meskipun rasanya manis, karena tidak
tahan lama.
Bila untuk keperluan ekspor, buah dipilih yang bersih, mulus, keras,
dan pejal. Agar buah tetap terjaga mutunya sampai di pasar, yaitu
warnanya tidak berubah, tidak busuk atau rusak, dan buah tetap
pejal, perlu penanganan tersendiri. Setelah dipilih, buah dilap
dengan kain halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada
buah. Kemudian setiap buah dibungkus dengan film regang (plastik PVC
tipis, setebal 0,14 mm) yang berukuran 30 x 30 cm.
Buah yang telah dibungkus kemudian disusun dalam kotak/kardus yang
telah dilapisi spon. Buah disusun dengan pangkal buah di bawah
(berdiri), dan setaip kardus hanya berisi 18 – 24 buah. Selanjutnya
dus-dus berisi buah belimbing itu disimpan sementara di ruangan
dingin (kira-kira 50ºC), sebelum diangkut untuk diekspor. Dengan
sistem pembungkusan dan penyimpanan di ruangan dingin ini mutu buah
akan terjaga dan dapat tahan sampai 3 minggu.
Buah yang akan dipasarkan ke tempat jauh, sebaiknya dikemas rapi
dalam kotak khusus agar buah sampai di tempat tujuan dengan utuh.
Kotak alias peti ini biasanya dibuat dari kayu. Ukuran peti yang
terbaik 60 x 28 x 28 cm. Dinding peti jangan ditutup rapat tapi
diberi lubang yang jaraknya lebih kecil dari ukuran buah belimbing.