Arsip Kategori: tanaman

tanaman Pala

SEJARAH SINGKAT
Pala (Myristica Fragan Haitt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera.

MANFAAT TANAMAN

Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik.

Kulit batang dan daun
Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri.

Fuli
Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual didalam negeri.

Biji pala

Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah. Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntahmuntah dan lain-lainya.

Daging buah pala
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kKristal daging buah pala.

SYARAT TUMBUH

Iklim
Tanaman pala juga membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan agak merata/tidak banyak berubah sepanjang tahun.
Suhu udara lingkungan 20-30 derajat C sedangkan, curah hujan terbagi secara teratur sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap musim kering selama beberapa bulan. Media Tanam
Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada tanah vulkasnis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organis yang tinggi.
Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 – 6,5. Tanaman ini peka terhadap gangguan air, maka untuk tanaman ini harus memiliki saluran drainase yang baik.
Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak mengalami erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat teras-teras melintang lereng. Ketinggian Tempat

Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m dpl. Sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan rendah.

PEDOMAN BUDIDAYA

Pembibitan
Perbanyakan Cara Generatif (Biji)
Pemilihan Biji Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji yang digunakan berasal dari:
Biji sapuan: biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya.
Biji terpilih: biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu: (1) biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih. Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kw alit asnya baik.

Penyemaian

Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan melakukan penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk penyemaian harus dipilih tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olakan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.

Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh.

Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).

Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.

Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami.

Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.

Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Cangkok (Marcoteren)

Perbanyakan tanaman pala dengan cara mencangkok bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat-sifat asli induknya (pohon yang dicangkok).

Hal yang diperhatikan dalam memilih batang/cabangyang akan dicangkok adalah dari pohon yang tumbuhnya sehat dan mampu memproduksi buah cukup banyak, pohon yang sudah berumur 12–15 tahun. Batang/cabang yang sudah berkayu, tetapi tidak terlalu tua/terlalu muda.

Cara mencangkok (marcotern):
Pertama, Batang/cabang dikelupas kulitnya dengan pisau tajam secara melingkar sepanjang 3–4 cm. Posisi cangkokan sekitar 25 cm dari pangkal batang/cabang. Lendir/kambium yang melapisi kayu dihilangkan dengan cara disisrik kambiumnya, batang yang akan dicangkok tersebut dibiarkan selama beberapa jam sampai kayunya yang tampak itu kering benar.
Kedua, Ambillah tanah yang gembur dan sudah dicampuri dengan pupuk kandang dalam keadaan basah dan menggumpal. Kemudian tanah tersebut ditempelkan/dibalutkan pada bagian batang yang telah dikuliti berbentuk gundukan tanah. Gundukan tanah tersebut kemudian dibalut dengan sabut kelapa/plastik. Agar tanah dapat melekat erat pada batang yang sudah dikuliti, maka sabut kelapa/plastik pembalut itu diikat dengan tali secara kuat pada bagian bawa, bagian tengah dan bagian atas. Bila menggunakan pembalut dari palstik, maka bagian atas dan bagian bawah harus diberi lubang kecil untuk memasukkan air siraman (lubang bagian atas) dan sebagai saluran drainase (lubang bagian bawah).
Ketiga, Bila pencangkokkan ini berhasil dengan baik, maka setelah 2 bulan akan tumbuh perakarannya. Jika perakaran cangkokkan itu sudah siap untuk dipotong dan dipindahkan keranjang atau ditanam langsung di lapangan. Perbanyakan Cara Peyambungan ( Enten Dan Okulasi )

Sistem penyambungan ini adalah menempatkan bagian tanaman yang dipilih pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman bersama. Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni:

Penyambungan Pucuk (entern, grafting)

Penyambungan pucuk ini ada tiga macam yaitu :
Pertama, Enten celah (batang atas dan batang bawah sama besar)
Kedua, pangkas atau kopulasi
Ketiga, Enten sisi (segi tiga)

Penyambungan mata (okulasi)

Penyambungan mata ada tiga macam yaitu:
Pertama, Okulasi biasa (segi empat)
Kedua, Okulasi “T”
Ketiga, Forkert

Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi itu dilakukan dan jika telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambungan enten) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah dapat ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Penyusuan (Inarching Atau Approach Grafting)

Dalam sistem penyusuan ini, ukuran batang bawah dan batang atas harus sama besar (kurang lebih besar jari tangan orang dewasa). Cara melakukannya adalah sebagai berikut:

Pertama, Pilihlah calon bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran sama.
Kedua, Lakukanlah penyayatan pada batang atas dan batang bawah dengan bentuk dan ukuran sampai terkena bagian dari kayu.
Ketiga, Tempelkan batang bawah tersebut pada batang atas tepat pada bekas sayatan tadi dan ikatlah pada batang atas tepat pada bekas sayatan dan ikat dengan kuat tali rafia.

Setelah beberapa waktu, kedua batang tersebut akan tumbuh bersama-sama seolah-olah batang bawah menyusu pada batang atas sebagai induknya. Dalam waktu 4–6 minggu, penyusuan ini sudah dapat dilihat hasilnya. Jika batang atas daun-daunnya tidak layu, maka penyusuan itu dapat dipastikan berhasil. Setelah 4 bulan, batang bagian bawah dan bagian atas sudah tidak diperlukan lagi dan boleh dipotong serta dibiarkan tumbuh secara sempurna. Jika telah tumbuh sempurna, maka bibit dari hasil penyusuan tersebut sudah dapat ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Stek

Tanaman pala dapat diperbanyak dengan stek tua dan muda yang dengan 0,5% larutan hormaon IBA. Penyetekan menggunakan hormon IBA 0,5%, biasanya pada umur 4 bulan setelah dilakukan penyetekan sudah keluar akar-akarnya. Kemudian tiga bulan berikutnya sudah tumbuh perakaran yang cukup banyak. Percobaan lain adalah dengan menggunakan IBA 0,6% dalam bentuk kapur. Penyetekan dengan menggunakan IBA 0,6%, biasanya setelah 8 minggu sudah terbentuk kalus di bagian bawah stek. Kemudian jika diperlukan untuk kedua kalinya dengan larutan IBA 0,5%, maka setelah 9 bulan kemudian sudah tampak perakaran.

Pengolahan Media Tanam

Kebun untuk tanaman pala perlu disiapkan sebaik-baiknya, di atas lahan masih terdapat semak belukar harus dihilangkan. Kemudian tanah diolah agar menjadi gembur sehingga aerasi (peredaran udara dalam tanah) berjalan dengan baik. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada musim kemarau supaya proses penggemburan tanah itu dapat lebih efektif.

Pengolahan tanah pada kondisi lahan yang miring harus dilakukan menurut arah melintang lereng. Pengolahan tanah dengan cara ini akan membentuk alur yang dapat mencegah aliran permukaan tanah/menghindari erosi.

Pada tanah yang kemiringan 20% perlu dibuat teras-teras dengan ukuran lebar sekitar 2 m, dapat pula dibuat teras tersusun dengan penanaman sistem kountur, yaitu dapat membentuk teras guludan, teras kredit/teras bangku.

Teknik Penanaman

Penanaman bibit dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini untuk mencegah agar bibit tanaman tidak mati karena kekeringan, bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 3–5 batang cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat baik. Penanaman yang berasal dari biji dilakukan dengan cara sebagai berikut: polybag (kantong pelastik) di lepaskan terlebih dahulu, bibit dimasukkan kedalam lubang tanam dan permukaan tanah pada lubang tanam tersebut dibuat sedikit dibawah permukaan lahan kebun. Setelah bibit-bibit tersebut ditanam, kemudian lubang tanam tersebut disiram dengan air supaya media tumbuh dalam lubang menjadi basah.

Bila bibit pala yang berasal dari cangkok, maka sebelum ditanam daun-daunnya harus dikurangi terlebih dahulu untuk mencegah penguapan yang cepat. Lubang tanam untuk bibit pala yang berasal dari cangkang perlu dibuat lebih dalam. Hal ini dimaksudkan agar setelah dewasa tanaman tersebut tidak roboh karena sistem akaran dari bibit cangkokan tidak memiliki akar tunggang. Setelah bibit di tanam, lubang tanam harus segera disiram supaya media tumbuhan menjadi basah. Penanaman bibit pala yang berasal dari enten dan okulasi dapat dilakukan seperti menanam bibit-bibit pala yang berasal dari biji. Lubang tanaman perlu dipersiapkan satu bulan sebelum bibit ditanam. Hal ini bertujuan agar tanah dalam lubangan menjadi dayung (tidak asam), terutama jika pembuatannya pada musim hujan, lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm untuk jenis tanah ringan dan ukuran 80x80x80 cm untuk jenis tanah liat. Dalam menggali lubang tanam, lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua lapisan tanah ini mengandung unsur yang berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bagian bawah di masukkan lebih dahulu, kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang telah dicampur dengan pupuk kandang secukupnya.

Jarak tanam yang baik untuk tanaman pala adalah: pada lahan datar adalah 9×10 m. Sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9×9 m.

Pemeliharaan Tanaman

Untuk mencegah kerusakan atau bahkan kematian tanaman, maka perlu di usahakan tanaman pelindung yang pertumbuhannya cepat, misalnya tanaman jenis Clerisidae atau jauh sebelumnya bibit pala di tanam, lahan terlebih dahulu di tanami jenis tanaman buah-buahan/tanaman kelapa.

Penyulaman harus dilakukan dilakukan jika bibit tanaman pala itu mati/pertumbuhannya kurang baik.

Pada akhir musim hujan, setelah pemupukan sebaiknya segera dilakukan penyiraman agar pupuk dapat segera larut dan diserap akar. Pada waktu tanaman masih muda, pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik ( pupuk kimia sama dengan pupuk buatan) yaitu berupa TSP, Urea dan KCl. Namun jika tanaman sudah dewasa/sudah tua, pemupukan yang dan lebih efektif adalah pupuk anorganik. Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan.

Sebelum pemupukan dilakukan, hendaknya dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar 20 cm secara melingkar di sekitar batang pokok tanaman selebar kanopi (tajuk pohon), kemudian pupuk TSP, Urea dan KCl ditabur dalam parit tersebut secara merata dan segera ditimbun tanah dengan rapat. Jika pemupukan di lakukan pada awal musim hujan, setelah dilakuakan pada akhir musim hujan, maka untuk membantu pelarutan pupuk dapat dilakukan penyiraman, tetapi jika kondisinya masih banyak turun hujan tidak perlu dilakukan penyiraman.

HAMA DAN PENYAKIT

Hama:

Pertama, Penggerek batang (Batocera sp)

Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat mengalami kematian. Gejala : terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,5–1 cm, di mana didapat serbuk kayu. Pengendalian : (1) menutup lubang gerekan dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya.

Memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron 199 EC dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan alat bor, dosis yang dimasukkan sebanyak 15–20 cc dan lubang tersebut segera ditutup kembali.

Kedua, Anai-Anai / Rayap Hama anai-anai mulai menyerang dari akar tanaman, masuk ke pangkal batang dan akhirnya sampai ke dalam batang. Gejala : terjadinya bercak hitam pada permukaan batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarang dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap) akan kelihatan. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.

Ketiga, Kumbang Aeroceum fariculatus Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji pala. Imagonnya menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur akan menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan. Pengendalian: mengeringkan secepatnya biji pala setelah diambil dari buahnya.

Penyakit

Pertama, Kanker batang
Gejala: terjadinya pembengkakan batang, cabang atau ranting tanaman yang diserang. Pengendalian : membersihkan kebun dari semak belukar, memangkas bagian yang terserang dan dibakar.

Kedua, Belah putih
Penyebab : cendawan coreneum sp. yang dapat menyebabkan buah terbelahan

Ketiga, Gugur sebelum tua.
Gejala : terdapat bercak-bercak kecil berwarna ungu kecoklatcoklatan pada bagian kuliat buah. Bercak-bercak tersebut membesar dan berwarna hitam. Pengendalian : (1) membuat saluran pembuangan air yang baik; (2) pengasapan dengan belerang di bawah pohon dengan dosis 100 gram/tanaman.

Keempat, Rumah Laba-Laba
Menyerang cabang, ranting dan daun. Gejala : daun mengering dan kemudian diikuti mengeringnya ranting dan cabang. Pengendalian : memangkas cabang, ranting dan daun yang terserang, kemudian dibakar.

Kelima, Busuk buah kering
Penyebab : jamur Stignina myristicae . Gejala : berupa bercak berwarna coklat, bentuk bulat dan cekung dengan ukuran bercak bervariasi, yakni dari yang berukuran sangat kecil sampai sekitar 3 cm; pada kulit buah tampak gugusan-gugusan jamur berwarna hijau kehitam-hitaman dan akhirnya bercak-bercak tersebut terjadi kering dan keras.
Pengendalian : (1) kondisi kelembaban di sekitar pohon pala perlu dikurangi, misalnya dengan mengurang kerimbunan pohon-pohon lain di sekitar pala dengan memangkas sebagian cabang-cabangnya yang berdaun rimbun, kemudian tanah di sekitar pohon dibersihkan, tidak terdapat gulma atau tanaman-tanaman perdu lainnya; (2) buah pala dan daun yang terserang penyakit ini segera dipetik dan dipendam dalam tanah; (3) dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida secara yang rutin, yakni 2–4 minggu sekali, baik pada saat ada serangan maupun tidak ada serangan dari penyakit ini, fungsida yang dapat digunakan adalah yang mengandung bahan aktif mancozeb, karbendazim dan benomi.

Ketujuh, Busuk buah basah
Penyebab : jamur Collectotrichum gloeosporiodes, yang menyerang atau menginfeksi buah yang luka. Gejala : buah pala tampak busuk warna coklat yang sifatnya lunak dan basah; gejala ini timbul pada sekitar tangkai buah yang melekat pada buah sehingga buah mudah gugur. Pengendalian : dengan busuk buah kering.

Kedelapan, Gugur buah muda
Gejala : adanya buah muda yang gugur. Penyebab : penyakit ini belum diketahui dengan jelas. Pengendalian : dengan mengkombinasikan (memadukan) antara pemupukan dan pemberian fungisida.

PANEN

Ciri dan Umur Panen

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun. Buah pala dapat dipetik (dipanen) setelah cukup masak (tua), yakni yaitu sekitar 6–7 bulan sejak mulai bunga dengan tanda-tanda buah pala yang sudah masak adalah jika sebagian dari buah tersebut tersebut murai merekah (membelah) melalui alur belahnya dan terlihat bijinya yang diselaputi fuli warna merah. Jika buah yang sudah mulai merekah dibiarkan tetap dipohon selama 2-3 hari, maka pembelahan buah menjadi sempurna (buah berbelah dua) dan bijinya akan jatuh di tanah.

Di Daerah Banda, dikenal 3 macam waktu panen tiap tahun, yaitu: (1) panen raya/besar (pertengahan musim hujan); panen lebih sedikit (awal musim hujan) dan panen kecil (akhir musim hujan). Panen buah pala pada permulaan musim hujan memberikan hasil paling baik (berku alit as tinggi) dan bunga pala (fuli) yang paling tebal.

Cara Pemetikan

Pemetikan buah pala dapat dilakukan dengan galah bambu yang ujungnya diberi/dibentuk keranjang (jawa: sosok). Selain itu dapat pula dilakukan dengan memanjat dan memilih serta memetik buah-buah pala yang sudah masak benar.

PASCAPANEN

Pemisahan Bagian Buah

Setelah buah-buah pala masak dikumpulkan, buah yang sudah masak dibelah dan antara daging buah, fuli dan bijinya dipisahkan. Setiap bagian buah pala tersebut ditaruh pada wadah yang kondisinya bersih dan kering. Biji-biji yang terkumpul perlu disortir dan dipilah-pilahkan menjadi 3 macam yaitu: (1) yang gemuk dan utuh; (2) yang kurus atau keriput; dan (3) yang cacat.

Pengeringan Biji

Biji pala yang diperoleh dari proses ke-I tersebut segera dijemur untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Biji dijemur dengan panas matahari pada lantai jemur/tempat lainnya. Pengeringan yang terlalu cepat dengan panas yang lebih tinggi akan mengakibatkan biji pala pecah. Biji pala yang telah kering ditandai dengan terlepas bagian kulit biji (cangkang), jika digolongkan akan kocak dan kadar airnya sebesar 8–10 %.

Biji-biji pala yang sudah kering, kemudian dipukul dengan kayu supaya kulit buijinya pecah dan terpisah dengan isi biji. Isi biji yang telah keluar dari cangkangnya tersebut disortir berdasarkan ukuran besar kecilnya isi biji:
Besar: dalam 1 kg terdapat 120 butir isi biji.
Sedang: dalam 1 kg terdapat sekitar 150 butir isi biji.
Kecil: dalam 1 kg terdapat sekitar 200 butir isi biji.

Isi biji yang sudah kering, kemudian dilakukan pengapuran. Pengapuran biji pala yang banyak dilakukan adalah pengapuran secara basah, yaitu: a) Kapur yang sudah disaring sampai lembut dibuat larutan kapur dalam bak besar/bejana (seperti yang digunakan untuk mengapur atau melabur dinding/tembok). b) Isi biji pala ditaruh dalam keranjang kecil dan dicelupkan dalam larutan kapur sampai 2–3 kali dengan digoyang-goyangkan demikian rupa sehingga air kapur menyentuh semua isi biji. c) Selanjutnya isi biji itu diletakkan menjadi tumpukan dalam gudang untuk dianginanginkan sampai kering. Setelah proses pengapuran perlu diadakan pemeriksaaan terakhir untuk mencegah kemungkinan biji-biji pala tersebut cacat, misalnya pecah yang sebelumnya tidak diketahui.

Pengawetan biji pala juga dapat dilakukan dengan teknologi baru, yakni dengan fumigasi dengan menggunakan zat metil bromida (CH 3 B 1 ) atau karbon bisulfida (CS 2 ) .

Pengeringan Bunga Pala (Fuli)

Fuli dijemur pada panas matahari secara perlahan-lahan selama beberapa jam, kemudian diangin-anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli itu kering. Warna fuli yang semula merah cerah, setelah dikeringkan menjadi merah tua dan akhirnya menjadi jingga. Dengan pengeringan seperti ini dapat menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh) dan berku alit as tinggi sehingga nilai ekonomisnya pun tinggi pula.

Pemecahan Tempurung Biji

Pemecahan tempurung biji pala dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

Pertama, Dengan tenaga manusia: Cara memecah tempurung dari biji pala dilakukan dengan cara memukulnya dengan kayu sampai tempurung tersebut pecah. Cara memecah tempurung biji pala memerlukan keterampilan khusus, sebab kalau tidak isi biji akan banyak yang rusak (pecah) sehingga kulitasnya turun. Dengan mesin: Cara ini banyak digunakan petani pala. Secara sederhana dapat diterangkan bahwa mekanisme kerja dan alat ini sama dengan yang dilakukan oleh manusia, yakni bagian tertentu dari mesin menghancurkan kulit buah pala sehingga yang tinggal adalah isi bijinya. Keuntungan dari penggunaan mesin adalah tenaga, waktu dan biaya operasionalnya dapat ditekan. Disamping itu kerusakan mekanis dari isi biji juga lebih kecil.

Sumber: Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

// <![CDATA[//

tanaman buah belimbing

Budidaya Tanaman Belimbing
(Averrhoa carambola L.)

Varietas:
Belimbing Demak, Sembiring, Paris, Dewi, dll.

Iklim:
Curah hujan tinggi atau daerah musim kemarau dengan perawatan baik.

Daerah: 0 – 500 m dpl.

Tanah:
Tanah bertekstur ringan hingga berat, sedikit berpasir, berdrainase
baik, dan agak asam, pH 5,0 – 6,0.

Perbanyakan :

Penyambungan

Untuk mendapatkan bibit yang sama seperti induknya sekarang, bibit
belimbing diperbanyak dengan penyambungan. Sebagai batang atasnya
diambil dari pohon yang sudah diketahui produktifitas dan mutu
buahnya tinggi. Rata-rata bibit yang berumur satu tahun sudah dapat
mulai berbuah tetapi sebaiknya bibit yang sudah kuat pohonnya yaitu
setelah 2 – 3 tahun yang boleh untuk berbuah.

Penanaman :

Jarak tanam untuk belimbing adalah 6 x 6 m.

Lubang tanam dibuat 80 x 80 x 100 cm beberapa minggu sebelum
penanaman. Biasanya dilakukan pada musim kemarau.

Sebagai campuran untuk tanah, tempat penanaman dapat dipakai pupuk
kandang sebanyak ± 0,3 m3.
Lubang tanam yang sudah diberi pupuk dasar dan sudah diangin-
anginkan beberapa hari siap untuk ditanami. Dengan bibit yang baik
dan cara penanaman yang tepat, kita akan mendapatkan tanaman
belimbing yang mampu memberikan hasil secara optimal.
Bersamaan dengan itu, bibit yang berumur 6 – 12 bulan, bisa ditanam
di lubang ini. Karena bibit ini umumya diperlihara dalam kantung
plastik, maka sebelum ditanam buka dulu pot plastiknya secara hati-
hati. Maksudnya, agar akar bibit tidak terganggu dan tanah yang
menutup akar tidak berantakan. Posisi bibit persis di tengah lubang
dan dikubur sebatas pangkal batang. Usahakan batas penanaman ini
sejajar dengan permukaan tanah di sekitarnya, untuk mencegah
menggenangnya air bila suatu saat hujan besar. Terakhir, tanah
dipadatkan sedikit sambil disiram. Untuk mengurangi penguapan air,
tanah dapat ditutup dengan jerami atau rumput kering. Peneduh juga
sebaiknya dipasang supaya bibit yang baru tidak mati kena sengatan
panas matahari.

Pemupukan:

Dosis pupuk per pohon menurut umur tanaman

Umur tanaman (th) Pupuk kandang (m3/th) NPK 15:15:15 (gr)
0 – 1 0,3 50 (tiap 3 bulan)
1 – 2 0,3 100 (tiap 3 bulan)
2 – 3 0,4 150 (tiap 3 bulan)
>3 0,05 50 (tiap 6 bulan)

Setelah memasuki masa produksi, formulasi pupuk dapat diganti dengan
pupuk yang berkadar P dan K lebih tinggi dari N karena unsur inilah
yang banyak dipakai tanaman untuk pembentukan buah, misalnya
formulasi pupuk 10-20-20. Frekuensi pemupukan bagi tanaman yang
telah berproduksi adalah 2 kali setahun yaitu pertama pada awal
musim hujan dan yang kedua pada akhir musim hujan atau saat memasuki
musim kemarau.                                      

Pemeliharaan:

Untuk mendapatkan buah belimbing yang bagus, penampilannya mulus,
dan rasanya manis, tanaman butuh perawatan yang memadai. Perawatan
tanaman dimulai sejak bibit ditanam hingga tanaman tidak berproduksi
lagi. Perawatan itu meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, dan
penjarangan buah.

Penyiraman

Tanaman belimbing banyak membutuhkan air sepanjang hidupnya. Di
daerah yang sepanjang tahun mendapatkan hujan, tentu air tidak
manjadi masalah. Namun di daerah yang memiliki/mengalami musim
kering, kebutuhan tanaman akan air perlu mendapat perhatian.
Penyiraman dapat dilakukan dengan cara disiram sampai daerah sekitar
tajuk tanaman basah. Meskipun selalu butuh air, tanaman ini kurang
menyukai air tergenang. Oleh sebab itu tempat tumbuh tanaman harus
diberi sarana drainase yang baik. Bila ada kelebihan air, segera
dialirkan ke luar kebun agar tidak menggenang.

Pemberian mulsa

Untuk mempertahankan kelembaban dan untuk mengurangi penguapan air
tanah yang berlebihan, sebaiknya tanah diberi penutup. Pada umumnya
areal belimbing ditanami dengan rumput Taiwan sebagai mulsa. Rumput
yang diberikan tidak banyak dan ditanam bersamaan dengan penanaman
bibit. Seiring dengan pertumbuhan tanaman, rumput itupun berkembang.
Selanjutnya rumput dibiakkan sampai memenuhi areal penanaman
belimbing, kecuali di sekitar tajuk. Rumput-rumput lain (selain
rumput yang ditanam) yang dapat mengganggu atau merugikan tanaman
dapat dimatikan dengan manual atau herbisida selektif.

Pemangkasan dan pembuatan para-para.

1. Tujuan pemangkasan

Tujuan pemangkasan adalah untuk membentuk tajuk tanaman, meremajakan
tanaman berumur tua, membuang cabang atau ranting yang tumbuhnya
tidak beraturan, mendorong produksi buah, dan untuk memudahkan
panen. Memangkas tanaman biasanya dengan menggunakan gergaji untuk
cabang besar, gunting dahan untuk ranting.

2. Cara pemangkasan

Dilakukan dengan irisan miring ke atas. Dengan tujuan agar air
siraman maupun air hujan, langsung meluncur ke bawah. Dengan begitu
akan cepat kering, walaupun sempat terguyur. Luka pangkasan yang
lebar sebaiknya jangan dibiarkan begitu saja, tapi sebaiknya
dilumuri dengan bahan pelindung seperti parafin, cat minyak, atau
ter, sehingga luka akan terhindar dari serangan bakteri. Terutama
berlaku untuk cabang atau dahan berukuran besar.
Dengan memangkas cabang-cabang bawah, diharapkan tanaman tumbuh ke
atas. Setelah tanaman mencapai ketinggian 175 cm, pemangkasan
dihentikan dan cabang-cabang dibiarkan tumbuh semestinya.
Pada saat itu dibuat para-para/ajir yang menopang cabang-cabang
tanaman. Tujuan pembuatan para/ajir ini agar cabang dan ranting
tidak melengkung ke bawah. Para-para/ajir ini akan terasa manfaatnya
bila tanaman sudah berbuah. Cabang/ranting akan tersangga cukup kuat
dan tidak akan melengkung atau patah meski tanaman sarat dengan
buah. Agar kuat, para-para/ajir dibuat dari kayu ulin atau pipa
besi. Setelah para-para/ajir dibuat, pemangkasan dapat dilanjutkan
yaitu memangkas cabang-cabang yang tumbuh di bawah atau ke arah
bawah para-para/ajir. Sedangkan cabang-cabang yang berada di atas
para-para/ajir dibiarkan tumbuh.

Agar buah berukuran besar dan mulus

Umur 1 tahun, tanaman belimbing sudah mulai berproduksi. Untuk
mendapatkan hasil yang optimal, pembuahan perlu ditunda. Maksudnya,
buah pertama sebaiknya dibuang semua, tidak ada buah yang dibiarkan
menjadi besar. Maksudnya agar tanaman tumbuh kuat dulu, baru pada
tahun kedua buah dipelihara dan dibesarkan. Buah pertama yang
dibiarkan membesar, sering kurang baik bagi tanaman. Tanaman akan
menjadi lemah dan mudah terserang hama/penyakit. Dengan ditundanya
pembuahan tanaman akan tumbuh kuat, dan tahun-tahun selanjutnya
tanaman mampu menghasilkan buah-buah yang bagus. Agar buah berukuran
besar, maka perlu penjarangan. Bila dibiarkan begitu saja, buah
tidak bisa berkembang secara optimal. Karena distribusi makanan
diperuntukkan bagi banyak buah, dan buah tidak leluasa berkembang
karena berdesakan. Penjarangan dimaksudkan agar buah lebih leluasa
berkembang dan distribusi makanan hanya untuk buah yang dipelihara.
Dengan demikian buah akan menjadi besar. Buah yang dipelihara adalah
buah yang sehat, tidak cacat, dan tumbuh pada cabang-cabang besar.
Sedangkan buah yang tumbuh pada ranting-ranting kecil, yang cacat
atau sakit, dibuang semua. Dalam penjarangan ini diusahakan tidak
ada buah yang menggerombol atau berdempetan. Satu pohon diperkirakan
hanya ada 100 buah belimbing yang dipelihara sampai besar. Dengan
demikian, buah benar-benar tumbuh maksimal pada cabang yang kokoh
sehingga buah tidak mudah rontok, atau cabang patah. Penjarangan
dilakukan saat buah sebesar 2,5 – 5 cm atau 5 – 10 hari setelah
bunga bermekaran.
Untuk mendapatkan buah belimbing yang mulus pada saat panen nanti,
maka buah harus dibungkus. Selain untuk menghindari hama/penyakit,
khususnya hama lalat buah, pembungkusan dapat membuat buah tampak
lebih bersih dan menarik. Kapan mulai melaksanakan pembungkusan buah
di pohon? Segera setelah penjarangan, buah harus sudah dibungkus.
Pembungkusan buah di pohon hendaknya dilakukan dengan hati-hati agar
buah itu tidak lepas dari tangkainya. Sebagai pembungkusnya dapat
digunakan kertas koran. Caranya, ambil selembar kertas koran selebar
1/4 halaman, lalu digulung. Besarnya lubang gulungan itu
diperkirakan mampu memuat buah belimbing yang berkembang maksimal.
Caranya bisa menggunakan bantuan botol atau gelas yang digulungkan
pada kertas koran itu.
Setelah gulungan terbentuk, gelas/botolnya dapat ditarik keluar.
Setelah itu, dengan hati-hati buah muda di pohon dibungkus dengan
gulungan koran tadi. Bagian pangkal (tangkai buah) maupun ujungnya
dapat dijepit dengan staples. Buah dibungkus satu per satu, sampai
buah di pohon terbungkus semua.

Pengendalian Hama:

Tanaman belimbing dapat terserang hama atau penyakit yang mengganggu
pertumbuhan tanaman. Pengendlaian hama dan penyakit harus dilakukan
sedini mungkin agar kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan.

Hama

Hama yang sering menyerang tanaman belimbing adalah tungau. Hama
yang berukuran kecil ini biasanya bersembunyi di permukaan daun
bagian bawah. Tungau ini mengisap cairan tanaman dan meninggalkan
bekas titik-titik halus berwarna kecoklatan pada permukaan bawah
daun. Serangan berat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Hama
tungau hanya dapat diberantas dengan pestisida sistemik atau kontak
yang banyak tersedia. Selain itu, buah-buah muda umumnya peka
terhadap serangan lalat buah. Buah yang sudah terlanjur dihinggapi
lalat buah, tidak akan dapat diselamatkan, artinya kualitas buah
akan menurun. Satu-satunya jalan adalah mencegah serangan hama
tersebut. Untuk mencegah lalat buah, maka buah perlu dibungkus sejak
masih pentil. Sebagai tindakan pencegahan terhadap serangan hama-
hama yang merugikan, 2 minggu sekali tanaman disemprot pestisida,
yang takarannya disesuaikan dengan dosis yang tertera pada
kemasannya.

Penyakit

Kadang kala belimbing diserang cendawan jelaga yaitu pada musim
hujan dan udara lembab. Tandanya dapat terlihat jelas sebagai
lapisan hitam di atas permukaan daunnya. Untuk pencegahan dapat
dilakukan penyemprotan dengan bubuk sulfur atau bordeaux.

Pemanenan

Pada waktu pemetikan perlu dilakukan dengan hati-hati agar buah
tidak luka atau memar, karena hal ini akan mempengaruhi mutu
belimbing.
Oleh karena itu sebaiknya buah dipungut hati-hati, dengan memisahkan
buah yang kena penyakit dan buah yang sehat. Jangan dipetik terlalu
matang bila akan dikirim ke tempat jauh, dan buah yang sudah dipetik
hendaknya ditampung dalam wadah yang sebelumnya sudah dialasi dengan
kain bekas atau bahan lain seperti jerami.
Pemetikan buah dilakukan kira-kira 60 – 65 hari setelah bunga mekar,
buah berwarna kuning muda atau hijau kekuningan (kira-kira 25%
kuning dan 75% hijau). Pemetikan dilakukan pagi hari ketika suhu
udara tidak begitu panas. Agar buah tidak rusak, pemetikan hendaknya
dilakukan dengan hati-hati. Buah yang masih terbungkus koran ditarik
dengan tangan, kemudian dimasukkan ke dalam keranjang atau wadah
lain yang telah disediakan. Pengumpulan buah dari kebun sebaiknya
dilakukan di tempat teduh, terlindung dari sinar matahari, agar buah
terjaga kesegarannya.

Perlakuan buah setelah panen

Buah diangkut dari kebun dan diletakkan di tempat yang teduh.
Kemudian buah dilepaskan dari bungkusnya. Buah-buah yang cacat
dipisahkan dari buah yang baik. Klasifikasi mutu buah biasanya
ditentukan oleh penampilan (kemulusan buah) dan besarnya. Belimbing
ini digolongkan dalam 3 kualitas, yaitu kualitas A, B, dan
C.Kualitas A adalah buah yang berukuran besar, 1 kg hanya berisi 4
buah. Kualitas B, per kilogramnya berisi 6 buah, sedangkan kualitas
C 8 – 9 buah.
Selain itu, buah belimbing juga diklasifikasikan berdasarkan
warnanya. Indeks warna 1, buah berwarna hijau penuh. Indeks warna 2,
buah berwarna hijau kekuningan (warna kuning kurang dari 25%).
Indeks warna 3, buah yang memiliki warna kuning 26 – 55 %. Indeks
warna 4, buah yang memiliki warna kuning 76 – 100%. Yang terakhir,
indeks warna 5, sepenuhnya berwarna orange.
Pemisahan berdasarkan warna ini biasanya untuk tujuan ekspor. Buah
yang memiliki indeks warna 1 tidak layak untuk dijual karena rasanya
masih asam dan kelat. Buah berindeks warna 2 dan 3 adalah buah
belimbing yang cocok untuk ekspor karena masih bisa tahan lama dan
rasanyapun enak. Sedangkan buah yang memiliki indeks warna 4 dan 5,
tidak sesuai untuk ekspor, meskipun rasanya manis, karena tidak
tahan lama.
Bila untuk keperluan ekspor, buah dipilih yang bersih, mulus, keras,
dan pejal. Agar buah tetap terjaga mutunya sampai di pasar, yaitu
warnanya tidak berubah, tidak busuk atau rusak, dan buah tetap
pejal, perlu penanganan tersendiri. Setelah dipilih, buah dilap
dengan kain halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada
buah. Kemudian setiap buah dibungkus dengan film regang (plastik PVC
tipis, setebal 0,14 mm) yang berukuran 30 x 30 cm.
Buah yang telah dibungkus kemudian disusun dalam kotak/kardus yang
telah dilapisi spon. Buah disusun dengan pangkal buah di bawah
(berdiri), dan setaip kardus hanya berisi 18 – 24 buah. Selanjutnya
dus-dus berisi buah belimbing itu disimpan sementara di ruangan
dingin (kira-kira 50ºC), sebelum diangkut untuk diekspor. Dengan
sistem pembungkusan dan penyimpanan di ruangan dingin ini mutu buah
akan terjaga dan dapat tahan sampai 3 minggu.
Buah yang akan dipasarkan ke tempat jauh, sebaiknya dikemas rapi
dalam kotak khusus agar buah sampai di tempat tujuan dengan utuh.
Kotak alias peti ini biasanya dibuat dari kayu. Ukuran peti yang
terbaik 60 x 28 x 28 cm. Dinding peti jangan ditutup rapat tapi
diberi lubang yang jaraknya lebih kecil dari ukuran buah belimbing.

tanaman stroberi

Strawberry dan juga dikenal dengan nama arbei dari bahasa Belanda aardbei adalah sebuah genus tumbuhan dalam keluarga Rosaceae merupakan nama buah dari tanaman ini. Ada kurang lebih 20 spesies stroberi. Spesies yang paling umum ditanam untuk dijual adalah dari hasil penyilangan Fragaria × ananassa.

Buah stroberi berwarna hijau keputihan ketika sedang berkembang, dan pada kebanyakan spesies berubah menjadi merah ketika masak. Namanya berasal dari bahasa Inggris kuno streawberige yang merupakan gabungan dari streaw atau “straw” dan berige atau “berry”. Alasan pemberian nama ini masih tidak jelas. Beberapa spesies Lepidoptera mengambil sumber makanannya dari tumbuhan stroberi, menjadikan spesies ini hama utama tanaman stroberi.

Prospek agribisnis strowberry di Indonesia cukup cerah dilihat dari daya serap pasar dan permintaan dunia dari tahun ke tahun yang terus meningkat.Karena itu tak mengherankan,bila para petani tampak mulai bergairah membudidayakan tanaman stroberi secara intensif seperti yang dilakukan petani di daerah Tawangmangu Kab. Karang Anyar, Sukabumi, Cipanas Kab.Cianjur, Lembang dan Rancabali Bandung, Batu Kab.Malang dan Bedugul (Bali).

Adapun syarat tumbuh bagi tanaman strawberry yakni lama penyinaran matahari 8 – 10 jam hari. Curah hujan berkisar 600 700 mm pertahun. Suhu udara optimum antara 17°C – 20°C dan suhu udara minimum antara 4°C – 5°C dengan kelembaban udara 80% – 90%.Ketinggian tempat yang ideal antara 1000-2000 m dpl.

Dalam pengolahan lahan yang akan ditanami stroberry,maka sebelum lahan dibajak digenangi air lebih dahulu semalam. Keesokan harinya dilakukan pembajakan sedalam sekitar 30 cm, setelah itu tanah dilakukan pengeringan baru dihaluskan.
Kemudian membuat bedengan dengan ukuran lebar 80-120 cm, tinggi 30 – 40 cm, jarak antar bedengan 60 cm, panjang menyesuaikan keadaan lahan. Juga dalam pengapuran diberikan dolomit sekitar 100-200 kg per 1000 m2 sesuai kondisi lahan.

Sebelum penanaman, maka perlu dilakukan pemupukan dasar dengan cara menaburkan pupuk UREA 20 kg + TSP 25 kg + KCl 10 kg dan Pupuk kandang 2-3 ton untuk lahan 1 hektar. Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur utamanya penyakit layu, berikan fungisida yang telah dicampur dengan pupuk kandang dan didiamkan selama seminggu.

Pemasangan mulsa plastik pada saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga dapat tepat menutup bedengan dengan tepat.Selanjutnya pembuatan lubang tanam berdiameter lubang ± 10 cm, dengan jarak lubang 30 – 50 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segi empat.

Adapun cara penanaman strawberry adalah dengan memindahkan bibit beserta medianya.Sebaiknya bibit dikondisikan selama sebulan sebelum tanam di kebun,dan saat penanaman usahakan perakaran tidak rusak saat membuka polibag. Selain itu, perlu dilakukan penyulaman paling lambat 15-30 hari setelah tanam, pada sore hari dan segera disiram,serta penyiangan dilakukan pada gulma/ rumput liar yang menyaingi kehidupan tanaman. Kemudian dilakukan pemangkasan,dilakukan pada sulur yang kurang produktif, rimbun, serta pada bunga pertama untuk memperoleh buah yang prima.

Pemupukan susulan diberikan pada umur 1,5 – 2 bulan setelah tanam dengan NPK (16-16-16) sebanyak 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air, kemudian dikocorkan sebanyak 350-500 cc/ tanaman.

H A M A

a. Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii) Bagian yang diserang : permukaan daun bagian bawah, kuncup bunga, pucuk atau batang muda. Gejala : pucuk atau daun keriput, keriting, kadang-kadang pembentukan daun atau buah terhambat.
b. TUNGAU (Tetranychus sp -Tarsonemus sp).Bagian yang diserang: daun, tangkai, dan buah. Gejala :daun bercak kuning, coklat, keriting akhirnya daun rontok.
c. Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Othiorhychus rugosostriatus), kumbang penggerek batang (O. Sulcatus)Gejala serangan : adanya bubuk berupa tepung pada bagian yang digereknya.

PENYAKIT

a. Layu verticillium (Verticillium dahliae)
Bagian yang diserang: mulai dari akar, daun, hingga tanaman. Gejala : daun yang terinfeksi mula-mula berwarna kuning hingga kecoklatan, serangan berat akan mengakibatkan kematian pada tanaman. Pengendalian : perbaikan drainase, sanitasi kebun, gunakan insektisida.
b. Busuk buah matang/Ripe Fruit Rot (Colletotrichum fragariae Brook) Busuk Rhizopus/ Rhizopus spot ( Rhizopus stolonifer ).Bagian yang diserang : buah. Gejala : RFR yang khas hanya pada buah yang masak saja dengan buah busuk disertai massa spora berwarna merah jambu. Pada RS, buah busuk lunak, berair, bila dipijit keluar cairan keruh. Pengendalian : musnahkan buah yang terinfeksi, perbaiki drainase kebun, pemulsaan, rotasi tanaman, dan gunakan insektisida pada awal penanaman yang dicampur dengan pupuk kandang yang telah jadi.
c. Busuk akar ( Idriella lunata, Pythium ulmatum, Rhizoctonia solani)
Bagian yang diserang : akar tanaman. Gejala : Idriella menyebabkan ujung-ujung akar tanaman berwarna hitam dan busuk, sedangkanPhytium mengakibatkan batang batas akar di permukaan tanah busuk berwarna coklat hingga hitam. Sementara jamur Rhizoctonia mengakibatkan sistem perakaran busuk kebasah-basahan. Pengendalian : cabut dan musnahkan tanaman yang terserang berat, tambahkan kapur untuk tanah, lakukan rotasi tanaman, perbaikan drainase tanaman,dan berikan insektisida pada awal penanaman.
d. Empulur merah (Phytophtora fragrariae)
Bagian yang diserang : perakaran tanaman. Gejala : tanaman kerdil, daun tudak segar bahkan dapat layu, bila diamati akar dan pangkal batang yang terinfeksi pada empulurnya akan tampak berwarna merah. Penyakit ini mengakibatkan serangan hebat pada kondisi drainase jelek dan masam/pH rendah. Pengendalian : perbaiki drainase, pengapuran tanah, rotasi tanaman, gunakan bibit yang sehat dan hindari luka mekanis pada pemeliharaan, musnahkan tanaman yang terinfeksi berat,dan campurkan pada awal penanaman.

PANEN

Tanaman stroberi mulai berbunga pada umur 2 bulan setelah tanam. Namun pembuahan atau pembungaan pertama sebaiknya dibuang atau dipangkas karena belum bisa berproduksi secara optimum. Setelah tanaman berumur 4 bulan mulai diarahkan untuk lebih produktif berbunga dan berbuah. Panen dilakukan dengan dipetik atau digunting bagian tangkai buah beserta kelopaknya, dan dilakukan secara periodik dua kali seminggu.

buah mahkota dewa

Dari penelitian ilmiah yang sangat terbatas itu diketahui bahwa mahkota dewa memiliki kandungan kimia yang kaya. Itu pun belum semuanya terungkap. Dalam daun dan kulit buahnya terkandung ALKALOID, SAPONIN, dan FLAVONOID. Selain itu, di dalam daunnya juga terkandung POLIFENOL.

Seorang ahli farmakologi dari Fakultas Kedokteran UGM, dr. Regina Sumastuti, berhasil membuktikan bahwa mahkota dewa mengandung ZAT ANTIHISTAMIN. Zat ini merupakan penangkal alergi. Dengan begitu, dari sudut pandang ilmiah, mahkota dewa bisa menyembuhkan aneka penyakit alergi yang disebabkan histamin, seperti biduren, gatal-gatal, selesma, dan sesak napas. Penelitian dr. Regina juga membuktikan bahwa mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga persalinan berlangsung lebih lancar. Pembuktian empiris yang ada cukup banyak. Kasusnya juga berbeda-beda, dari yang berat sampai yang sepele. Kasus Tuti di atas hanyalah salah satu contoh.

Sampai saat ini banyak penyakit yang berhasil disembuhkan dengan mahkota dewa. Beberapa penyakit berat (seperti SAKIT LEVER, KANKER, SAKIT JANTUNG, KENCING MANIS, ASAM URAT, REUMATIK, SAKIT GINJAL, TEKANAN DARAH TINGGI, LEMAH SYAHWAT DAN KETAGIHAN NARKOBA) dan penyakit ringan (seperti EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA) bisa disembuhkan dengan pohon ini.

Pembuktian empiris juga dapat ditemui di sebuah pesantren yang getol menangani korban obat-obat psikotropika. Bahkan, beberapa orang dokter yang mengidap penyakit cukup gawat pun sudah membuktikan khasiat mahkota dewa.

Masalah yang mengganjal terhadap pemakaian mahkota dewa sebagai tanaman obat adalah terbatasnya pembuktian-pembuktian ilmiah akan kegunaan pohon ini. Selama ini pembuktian yang ada sebagian terbesar masih berupa pembuktian empiris, pembuktian yang hanya berdasarkan pada pengalaman pengguna.  

Literatur-literatur yang membahasnya pun sangat terbatas. R. Broto Sudibyo, Kepala Bidang Pelayanan Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, menguatkan keterbatasan literatur ini. Dalam literatur kuno pun, keterangan mengenai mahkota dewa sangat terbatas. Hanya kegunaan biji buah yang bermanfaat sebagai bahan baku obat luar, misalnya untuk obat kudis, yang dibahas.
Mahkota dewa adalah tanaman asli Indonesia. Habitat asalnya di tanah Papua. Namun, entah bagaimana caranya, tanaman ini masuk ke Keraton Mangkunegara di Solo dan Keraton Yogyakarta. Di kedua tempat itu mahkota dewa dikenal sebagai tanaman obat. Dulu memang hanya kedua keraton itu yang mengenal khasiat mahkota dewa untuk keperluan pengobatan.

Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5-2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20 tahun. Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.

buah duwet/jamblang

a. Klasifikasi Tanaman
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Mirtales
Familia : Mirtaceae
Genus : Eugenia
Spesies : Eugenia cumini Merr.
(Hutapea, J.R, et al., 1994)

b. Nama Daerah
Tanaman Eugenia cumini Merr. memiliki beberapa nama daerah yaitu Jambe kleng (Aceh), Jambe kling (Gayo), Jambu kalang (Minangkabau), Jambelang (Melayu), Jamblang (Sunda), Duwet (Jawa), Juwet (Jakarta).

c. Morfologi
Duwet atau sering disebut dengan jamblang (Eugenia cumini atau Syzgium cumini) termasuk buah-buahan yang langka. Tanaman ini termasuk ke dalam famili tumbuhan Euphorbiaceae. Di Indonesia, tumbuhan ini bisa hidup dengan subur. Banyak orang suka dengan daging buahnya yang putih kemerah-merahan serta kulit buah licin berwarna merah dan ungu kehitaman. Buahnya berbentuk lonjong, demikian pula bijinya. Hampir seluruh bagian tanaman duwet mengandung saponin, flavonoida dan tanin.

d. Khasiat dan Kandungan Kimia
Buah Eugenia cumini berkhasiat sebagai obat diare, obat sakit gula dan obta nyeri ginjal. Untuk obat diare dipakai ± 100 g buah matang Eugenia cumini, dicuci dan dimakan langsung. . Pada buahnya terkandung zat penyamak tanin, minyak terbang, damar, asam gallus, dan glikosida. Pada bijinya terdapat zat tanin, asam galat, glukosida phytomelin, dan alfa-phytosterol yang bersifat antikholestemik. Sementara itu, pada kulit pohonnya terdapat zat samak (tanin). Dan pada kulit buahnya terdapat antosianin penyebab warna ungu

buah matoa

Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman khas Papua dan menjadi flora identitas Provinsi Papua Barat. Matoa termasuk ke dalam famili Sapindaceae. Pohon matoa dapat tumbuh tinggi dan memiliki kayu yang cukup keras. Tinggi pohon 50 m, akar papan tingginya mencapai 5 m, daun majemuk berseling, bersirip genap, tangkai daun panjang ± 1 m, anak daun 4 – 13 pasang bentuknya bundar memanjang dengan tepi yang bergerigi. Mahkota bunga agak berbulu pada bagian luar, kelopak bunga agak menyatu.

Buahnya berbentuk bulat melonjong seukuran telur puyuh atau buah pinang (keluarga Palem) dengan panjang 1,5-5 cm dan berdiameter 1-3 cm, kulit licin berwarna coklat kehitaman bila masak (kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang menyebut hijau-kekuningan). Kulit ari putih bening melekat pada biji, manis dan harum.

Rasa buahnya “ramai”, dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka yang suka.

Tanaman ini mudah diperbanyak/ dikembang biakkan melalui biji, dan cara lain seperti cangkok serta okulasi. Matoa tumbuh di daerah yang sejuk atau dengan kata lain lebih mudah tumbuh di pada ketinggian 900 – 1700 m dpl, topografi datar atau miring, meskipun dapat pula tumbuh di dataran rendah, dengan waktu berbunga bulan Juli – Agustus dan berbuah pada bulan November – Februari.

Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.

Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin disebut pometia pinnata.

Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.

Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak (mantan) presiden Megawati mencanangkan penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, beberapa tahun yang lalu.

Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan, bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan kayunya juga cukup indah.

Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Papua.

tanaman jambu Bol












1.   SEJARAH SINGKAT

Jambu bol atau jambu dersana merupakan tanaman buah tahunan yang berasal
dari kawasan Indo-Cina, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Literatur lain
menyimpulkan bahwa jambu bol berasal dari Malaysia. Di Indonesia penyebaran
jambu bol terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Nama daerah jambu bol adalah jambu ripu (Aceh), dharsana (Madura), jambu
bol (Sunda, batak, lampung), Myambu bol (Bali), Jambu bo (Minangkabau),
jambu boa (Jambi) dan maufa (Nias).

2.   JENIS TANAMAN

Klasifikasi jambu bol adalah sebagai berikut:
Divisi        : Spermatophyta
Sub divisi    : Angiospermae
Kelas         : Dicotyledonae
Keluarga     : Myrtaceae
Genus        : Syzygium
Spesies      : Syzygium malaccense (L.) Merr & Perry

Tanaman tahunan ini dapat hidup sampai puluhan tahun. Dua jenis jambu
bol lokal yang biasa ditanam adalah jambu bol merah Cianjur dengan potensi 80-100
kg/musim/pohon dan jambu bol putih Congkili dengan potensi1.125-1.250
kg/musim/pohon. Varietas baru berumur genjah adalah Si Mojang yang dapat
dipanen 3 kali dalam setahun.


3.   MANFAAT TANAMAN

Buah jambu bol yang rasanya segar dan baunya sangat harum dijadikan
makanan buah segar yang disantap tanpa diolah.

4.   SENTRA PENANAMAN

Jawa Barat (Lebak, Bogor, Cianjur, Garut, Ciamis, Sumedang, Subang),
Jawa Timur (Purworejo, Boyolali, Karanganyar, Sragenm Jepara), Jawa Tengah (Malang,
Banyuwangi, Pamekasan) dan DI Yogyakarta (Kulon Progo). Pada tahun 1991,
produksi di pulau Jawa mencapai 51.763 kwintal/tahun. Luas produksi
sukar dipastikan karena belum ada perkebunan jambu bol, umumnya ditanam
sebagai tanaman pekarangan saja. Diperkirakan jumlah pohon di Pulau Jawa
mencapai 879.533. Produksi jambu bol dari tahun ke tahun dapat dikatakan konstan.

5.   SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim

1) Tanaman jambu bol dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki
   curah    hujan 500­3.000 mm/tahun.
2) Dalam Pertumbuhannya tanaman jambu bol memerlukan intensitas cahaya
    matahari sebesar 40-80%.
3) Temperatur yang ideal untuk pertumbuhan tanaman jambu bol adalah
   18­28 derajat C
4) Kelembaban udara antara 50­80 %

5.2. Media Tanam

1) Tanah yang cocok adalah tanah yang subur, gembur, banyak mengandung
   bahan    organik.
2) Tanah Inseptisol sangat baik, sedangkan tanah yang tidak terlalu
   subur seperti Ultisol dan Oksisol (Podsolik Merah Kuning) masih baik untuk budidaya
   jambu bol setelah diberi pupuk dan kapur.
3) Tanah dengan keasaman (pH) antara 5,5-7,5 sangat cocok untuk pertumbuhannya.

5.3. Ketinggian Tempat

Tanaman jambu bol mempunyai daya adaptasi yang besar di lingkungan
tropis dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.200 m dpl.

6.    PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1) Persyaratan Benih

    Biji berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15 tahun,
produktif dan produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yang besarnya
normal dan mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh.
Biji-biji yang memenuhi syarat adalah berukuran relatif besar, ukuran seragam,
bernas dan tidak cacat.

2) Pembuatan Persemaian

    Persemaian dapat dilakukan di dalam bedengan atau polybag.
    a) Bedengan
       1. Olah tanah sedalam 30-40 cm dengan cangkul, keringanginkan
15-30 hari.
          Buat bedengan lebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang sesuai
lahan dan jarak antar bedengan 60 cm.
       2. Campurkan 2kg/m2 pupuk kandang dengan tanah bedengan
       3. Buat sungkup bedengan berbentuk setengah lingkaran dengan
tinggi pusat lingkaran minimal 50 cm. Naungi sungkup dengan plastik bening.
    b) Polybag
       1. Lubangi dasar polybag diameter 10-15 cm.
       2. Isi polybag dengan media berupa campuran tanah, pupuk kandang
(2:1)
       3. Simpan polibag di dalam sungkup.

3) Teknik Penyemaian Biji

    a) Bedengan
       1. Siram tanah bedengan.
       2. Buat lubang semai pada jarak 15 x 10 cm.
       3. Semai biji di lubang sedalam 3-5 cm dan tutup dengan tanah
tipis, siram
          kembali.
    b) Polybag
       1. Siram media di dalam polybag.
       2. Semaikan satu biji sedalam 3-5 cm, tutup dengan tanah dan siram
          secukupnya.

4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

    a) Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, terutama jika kemarau.
    b) Penyiangan dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma.
    c) Pemupukan setiap 3 bulan dengan urea, SP-36 dan KCl (2:1:1)sebanyak 50-
       100 g/m2 atau 4 g/polibag.
    d) Penyemprotan pestisida dengan konsentrasi 30-50% dari dosisanjuran.
    e) Membuka sungkup jika cuaca cerah secara berangsur-angsur agar
       tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungan kebun.

5) Pemindahan Bibit

    Bibit di bedengan dipindahkan ke polybag setelah berumur 6 bulan.
    Pindah tanam ke lapangan dilakukan setelah bibit berumur 10-12 bulan di
    persemaian.

6) Bibit Enten (Grafting)

    Model sambungan yang terbaik adalah sambungan celah. Batang bawah
berasal dari bibit hasil perbanyakan dengan biji yang berumur 10-12 bulan
sedangkan pucuk berasal dari pohon induk unggul. Setelah disambung, bibit
dipelihara selama 2-3 bulan.

7) Bibit Cangkok

    Cabang yang akan dicangkok berada pada tanaman yang unggul dan
produktif. Cabang yang dipilih tidak terlalu tua/muda, berwarna hijau
keabu-abuan/kecoklat-coklatan dengan diameter sedikitnya 1.5 cm. Setelah 2-2,5 bulan
(sudah berakar),bibit segera dipotong dan ditanam di polybag dengan media campuran
tanah: pupuk kandang 1:1. Bibit dipelihara 1 bulan.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

    Lahan hanya diolah di lubang tanam dan dilaksanakan 15-30 mhari
sebelum tanam. Jarak tanam jambu bol adalah 8 x 8 m dengan lubang tanam
berukuran 60 x 60 x 50 cm.

2) Pembuatan Lubang Tanam

    Gali lubang tanam sedalam 25 cm sehingga membentuk lubang dangkal 60
x 60 x 25 cm Tempat kan tanah galian di satu sisi. Gali kembali sampai
kedalaman 50cm dan tempatkan tanah galian di sisi lain. Keringanginkan 15-30
hari. Masukkan tanah galian lapisan bawah. Campurkan 20-40 kg/ha pupuk kandang
dengan tanah galian atas dan masukkan ke dalam lubang. Sementara itu, pilih
dan siapkan bibit yang memenuhi syarat dan sehat, keperluan bibit per
hektar adalah 156 buah.

6.3. Teknik Penanaman

1) Pembuatan Lubang Tanam

    Lubang tanam dibuat dengan menggali lahan berukuran 30 x 30 x 30 cm.

2) Cara Menanam

    Bibit ditanam di awal musim hujan kecuali jika air selalu berlimpah.
    a) Taburkan insektisida 100 gram Furadan 3 G dan 100-150 gram
campuran urea, SP-36 dan KCl (2:1:1) ke dalam lubang tanam.
    b) Siram media polybag, sobek polybag, keluarkan bibit beserta
tanahnya dan tanamkan di lubang. Siram secukupnya.
    c) Timbun dengan tanah sampai pangkal batang dan padatkan tanah di
sekitar batang.
    d) Pasang tiang penyangga di sisi kiri/kanan dan ikat tanaman ke
tiang penyangga.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman

    Dilakukan sebelum tanaman berumur 1 bulan. Bibit yang tidak tumbuh
diganti dengan bibit baru yang ditanam pada lubang tanam yang sama.

2) Perempalan/Pemangkasan

    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk pohon dan sekaligus
meningkatkan produktifitas.
    a) Pemangkasan I
       1. Tanaman berumur kurang dari 1 tahun
       2. Memotong ujung batang sampai ketinggian 70-100 cm dari tanah
       3. Setelah cabang primer terbentuk, dipilih dua atau tiga cabang
primer terbaik dan dibiarkan tumbuh sampai 50 cm.
    b) Pemangkasan II
       1. Memotong ujung batang cabang primer yang sudah berukuran
panjang 50 cm.
       2. Cabang primer dipotong sampai 30 cm dari pangkalnya. Setelah
cabang sekunder terbentuk, dipilih 3 cabang sekunder terbaik.
    c) Pemangkasan III
       1. Memotong cabang sekunder sampai 30-50 cm dari pangkalnya.
       2. Setelah cabang tersier terbentuk, pelihara 3 cabang tersier.
       3. Pemangkasan dihentikan.

3) Pemupukan

    Jenis pupuk dan dosis (gram/pohon/tahun) yang digunakan adalah
sebagai berikut:
    a) Umur tanaman 1 tahun: Urea=200; SP-36=100; KCl=100; frekuensi
       pemupukan= 4x.
    b) Umur tanaman 2 tahun: Urea=200; SP-36=100; KCl=100; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    c) Umur tanaman 3 tahun: Urea=250; SP-36=125; KCl=125; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    d) Umur tanaman 4 tahun: Urea=300; SP-36=150; KCl=150; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    e) Umur tanaman 5 tahun: Urea=400; SP-36=200; KCl=200; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    f) Umur tanaman 6 tahun: Urea=200; SP-36=400; KCl=200; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    g) Umur tanaman 7 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    h) Umur tanaman 8 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    i) Umur tanaman 9 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    j) Umur tanaman 10 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    k) Umur tanaman > 10 tahun: Urea 250; SP-36-500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.

4) Pengairan dan Penyiraman

    Ketika masih muda, tanaman diairi 1-2 kali sehari. Jika sudah cukup
besar dan perakarannya dalam, tanaman disirami 10-2 kali sebulan. Pemberian air
dilakukan dengan cara disiram di sekeliling tajuk.

5) Pemulsaan

    Mulsa jerami kering dihamparkan setelah tanam di sekeliling tajuk
tanaman dengan ketebalam 3-5 cm.

6) Pembungkusan Buah.

    Buah dibungkus 7-10 hari sebelum panen untuk mencegah serangan lalat
buah dan mendapatkan warna kulit bagus. Pembungkusan buah menggunakan ijuk
yang membungkus rangkaian buah. Ijuk diikat di kedua ujung rangkaian
buah.

7.   HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1) Ulat parasa/ulat bajra (Parasa lepida Cr.)

    Ciri: ulat berwarna kuning kehijauan dengan garis biru di punggung,
berukuran
    20-25 cm dan berbulu yang menyebabkan rasa gatal. Gejala: daun robek
atau bolong tidak teratur. Pengendalian: kimia dengan insektisida Decis
2,5 EC/Curacron 500 EC.

2) Ulat trabola (Trabala pallida)

    Ciri: tubuh ulat bagian kiri dan kanan berbulu lebat, dengan kepala
merah bergaris kuning. Gejala: menyerang daun dan pada serangan berat dapat
menyebabkan tanaman gundul. Pengendalian: insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron
500 EC.

3) Lalat megatrioza (Megatrioza vitiensis Kiri.)

    Ciri: lalat kecil berwarna hitam kekuningan. Gejala: larva menyerang
buah dengan cara menggerek dan melubangi dan hidup di dalamnya. Buah dapat gugur.
    Pengendalian: membungkus buah dengan ijuk; menggunakan perangkap
    berbahan aktil metyl eugenol; insektisida sistemik Perfekthion 400 EC
dengan cara infus akar/batang menjelang masa berbunga.

4) Lalat bisul (Procontarini mattiana Kieff & Cicec)

    Gejala: daun berbintil-bintil atau berbisul kecil. Pengendalian:
memangkas daun yang terserang, sanitasi kebun dan insektisida sistemik Perfekthion
400 EC.

7.2. Penyakit

1) Antraknose

    Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporoides. Gejala: daun menjadi
keriting di daerah tepi dan ujung daun mati, tunas mengering dan mati, buah
matang berbercak-bercak coklat tua sampai hitam. Pengendalian dengan
sanitasi kebun, memangkas buah/daun yang terserang dan mengurangi kelembaban kebun.
    Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga Kasumin 5/75 WP
atau Cupravit OB 21.

2) Bercak daun

    Penyebab: jamur Cercospora sp. Gejala: daun berbercak-bercak merah
    kecoklatan dan di tengahnya berwarna putih. Pengendalian: dengan
sanitasi kebun, memangkas daun yang terserang dan fungisida Antracol 70-WP
atau Dithane M-45.

3) Kapang jelaga (sooty mould )

    Penyebab: jamur Capnodium sp. Gejala: sebagian atau seluruh permukaan
atas daun tertutup oleh lapisan hitam. Pengendalian kimia dengan
menyemprotkan bubuk belerang pada permukaan daun.

4) Karat merah (Red rust )

    Penyebab: jamur Cephaleuros virescens) Gejala: daun berbercak-bercak
bulat berwarna coklat, permukaan atas daun berbintik-bintik lembut.
Pengendalian dengan pemangkasan daun yang sakit dan sanitasi kebun serta fungisida
Antracol 70 WP dan Dithane M-45.

8.   PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Tanaman berasal dari biji berbuah pada umur 4-5 tahun, dari enten pada
umur 3-4tahun dan bila berasal dari cangkok pada umur 1-2 tahun. Pohon berbuah
bulan Mei-Juni dan buah dipanen di bulan Agustus-September. Ciri buah yang dapat
dipanen adalah sudah berukuran maksimal, umur 80 hari sejak berbunga, warna
kulit merah merata, merah bergaris /putih bersih (tergantung dari jenis) dan buah
sudah agak empuk dan agak harum.

8.2. Cara Panen

Buah dipetik dari rangkaiannya dengan hati-hati dan jangan sampai jatuh.

8.3. Periode Panen

Setiap musim dipetik 3-4 kali dengan interval 5 hari sekali.

8.4. Perkiraan Produksi

Buah jambu bol dapat dipanen dua kali dalam setahun, dengan hasil panen
ke dua hanya 50% dari panen pertama. Produktivitas jambu bol merah Cianjur
berkisar 12,48-15,6 ton/musim/ha atau 18,72-23,4 ton/tahun/ha, jambu bol putih
congkili 78,0 ton/musim/ha atau 117,0 ton/tahun/ha. Produktivitas mulai menurun pada
waktu tanaman berumur 30 tahun.

buah Labu air

LABU AIR
Family Cucurbitaceae

Deskripsi

Buahnya bulat memanjang berwama hijau muda dengan kulit mulus. Tumbuhnya merambat. Di pedesaan labu ini sering dirambatkan di batang pohon buah-buahan atau teras rumah karena buahnya yang berat sulit disangga oleh para-para bambu. Berat per buah sekitar 0,51,5 kg dan panjangnya antara 10-50 cm. Lebar daun labu air antara 10-40 cm.

Manfaat              

buah ini tergolong sayuran yang banyak disukai.

Syarat Tumbuh

Tanaman labu tergolong mudah ditanam dan wilayah tanamnya menyebar di berbagai belahan dunia, dari daerah beriklim tropis sampai subtropis. Dataran tinggi berhawa dingin maupun dataran rendah berhawa panas cocok ditanami labu. Daerah dengan ketinggian 1-1.500 m dpl cocok untuk jenis labu ini. Adaptasi labu terhadap perilaku cuaca juga sangat baik. Labu tak hanya mampu berantisipasi terhadap kurangnya air di musim kemarau, melainkan juga terhadap kelebihan air di musim hujan. Labu akan tumbuh optimal pada tanah yang kering, berdrainase dan aerasi baik, gembur, serta kaya bahan organik. Tanah yang cenderung asam dengan pH 5-6,5 justru disukainya. Untuk rata-rata lahan di Indonesia yang berkecenderungan asam, proses pengapuran untuk menaikkan pH bisa diabaikan.

Pedoman Budidaya

Benih Labu dikembangbiakkan lewat biji. Kebutuhan benih labu air 4-5 kg biji/ha. Penanaman Tanah yang sudah diolah dengan pencangkulan 2 kali hingga gembur diberi pupuk kandang. Pupuk kandang sebaiknya ditaruh sekitar lubang tanam. Tanah tak perlu dibedeng atau gulud. Akan tetapi, perlu dibuat parit pengairan sederhana dengan menggali parit kecil di sekeliling lahan dan di antara beberapa baris tanaman. Lubang penanaman dibuat dengan tugal. Masukkan 2-3 biji benih ke dalam lubang. labu air yang ditanam dengan para-para menggunakan jarak tanam 2 x 3 m. Tutupi buah dengan tanah dan pelihara tunasnya agar tumbuh dengan baik.

Pemeliharaan

Sebelum tanaman labu tumbuh merambat atau menjalar, tindakan penyiangan harus sering dilakukan. Tanah yang belum tertutup seluruhnya gampang sekali ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Tanah di sekitar batang utama tanaman perlu juga ditinggikan. Caranya tarik tanah ke dekat batang tanaman sehingga pada pokok tanaman tanah menjadi lebih tinggi. Setelah tanaman keluar sulur-sulurnya kita perlu membuat parapara labu air. Para-para dibuat dari bambu yang dibelah 2. Tancapkan bambu di sekitar pokok batang. Tinggi bambu dari permukaan tanah sekitar 1,5 m. Jadi bambu dipotong lebih dari itu agar bisa ditancapkan ke dalam tanah dengan kuat. Masing-masing bambu yang dijadikan tiang rambatan disambung dengan bambu lain di bagian atasnya. Jadi, dari atas para-para terlihat seperti kotak-kotak yang saling bersambung. Tambahkan bambu-bambu lagi dalam posisi melintang dan membujur agar bidang kotak menjadi sekitar 30 x 30 cm atau 50 x 50 cm. Pengecilan bidang kotak pada atap para-para dimaksudkan agar buah labu air dapat tumbuh sempurna dan mudah dipetik. Agar sambungannya kuat lakukan pengikatan atau pemakuan. Para-para harus dibuat sekuat mungkin karena nantinya akan menyangga buahnya yang berat. Pemangkasan pada labu dilakukan saat tanaman berumur 3-6 minggu. Pemangkasan cabang diusahakan agar tunas menyebar dengan baik sehingga buah tumbuh merata dan banyak. Cabang tua yang tidak tumbuh memanjang lagi dipotong ujungnya agar bisa bertunas. Daun tua yang tidak produktif lagi juga dibuang. Pemupukan Kebutuhan pupuk kandang ialah 5 kg per lubang tanam. Selain itu tambahkan NPK sebanyak 100 g/lubang atau 60-100 kg/ha. Pemberiannya dilakukan pada awal penanaman. Pupuk ini dibenamkan dekat batang pokok.

Hama dan Penyakit

Hama ulat grayak (Spodoptera litura) dapat menghabiskan daun labu. Tanda serangan bisa dilihat pada bekas gigitan yang sering hanya meninggalkan tulang daun saja. Serangan ulat dilakukan malam hari. Waktu siang hari ulat bersembunyi dalam tanah. Untuk pencegahannya, gulma di sekitar tanaman harus dibersihkan. Selain itu, lakukan penyemprotan sedini mungkin dengan Azodrin, dosisnya 2 cc/l, Kepik Leptoglossus australis menyerang buah labu. Bila hujan, bekas tusukan hama ini akan terkena air hujan sehingga mudah dimasuki oleh cendawan. Akibatnya buah menjadi lembek dan busuk. Bila menyerang daun, bagian tengah tanaman atau seluruhnya menjadi kering. Penyemprotan dengan Azodrin seperti dosis di atas juga mampu mengatasi serangan kepik. Lalat buah yang sering menyerang semangka adalah musuh tanaman labu juga. Bila telumya sudah masuk ke dalam buah maka buah sulit untuk dikonsumsi lagi. Pada belahan buah sering ditemui ulat-ulat kecil dari telur yang sudah menetas. Akibat lainnya, bila menyerang batang, bagian batang membengkak seperti bisul. Untuk mencegah serangan, kebersihan lahan harus dijaga. Selain itu, buah diberongsong dengan kertas, daun pisang, atau plastik. Adapun penyakit yang sering menyerang tanaman labu ialah penyakit layu. Penyebabnya ialah cendawan Fusarium sp. Bibit yang baru tumbuh dan tanaman yang masih muda mudah sekali terserang. Mula-mula ujung daun layu, kemudian mengerut, dan akhirnya kering. Bila tanaman yang terserang dalam areal masih sedikit, cabut tanaman tersebut dan musnahkan. Penyemprotan Benlate 2 g/l air ke tanaman serta di bekas tanah tempat tanaman terkena akan membantu kesehatan tanaman yang lain.

Panen dan Pasca Panen

Panen yang tergolong cepat pada jenis labu air, yakni 70-90 hari sesudah tanam. Umur panen ini bisa berbeda tergantung tingkat perkembangan buah yang diinginkan. Labu air dipotong tangkainya dengan pisau, tetapi jangan sampai jatuh. Kulitnya yang halus mudah lecet sehingga dapat mengurangi mutunya. Untuk panen labu air, tangkai harus dibiarkan tersisa sekitar 5 cm, jadi tidak dipotong utuh.

buah siwalan

Tanaman siwalan yang banyak manfaat:

Dimulai dari daunnya digunakan sebagai bahan kerajinan dan media penulisan naskah lontar. Barang-barang kerajinan yang dibuat dari daun lontar/siwalan antara lain adalah kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor.

Sejenis serat yang baik juga dapat dihasilkan dengan mengolah tangkai dan pelepah daun. Serat ini pada masa silam cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.

Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman dan kuat. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan.

Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) disadap orang nira(legan) lontar/siwalan. Nira(legen) ini dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol buatan rakyat.

Buahnya juga dikonsumsi, terutama yang muda. Biji yang masih muda itu masih lunak, demikian pula batoknya, bening lunak dan berair . Rasanya mirip kolang-kaling, namun lebih enak. Biji yang lunak ini kerap diperdagangkan di tepi jalan sebagai “buah siwalan”. Adapula biji siwalan ini dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan yang biasa didapati dijual didaerah pesisir Jawa Timur, Paciran, Tuban. Rasa minuman es dawet siwalan ini terasa lezat karena gulanya berasal dari sari nira/legen asli.

Daging buah yang tua, yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran panganan atau kue-kue; atau untuk dibuat menjadi selai.

ini merupakan bentuk buahnya siwalan

buah siwalan

yang ini bentuk air nira (legen) yang di dapat dari sadapan pohon siwalan dan sampingnya buahnya yang sudah di kupas.

lagen

tanaman terong

PENDAHULUAN
Prospek budidaya tanaman terong makin baik untuk dikelola secara intensif dan komersial dalam skala agribisnis, namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan bentuk kultur budidaya yang masih sampingan, belum memadainya informasi teknik budidaya di tingkat petani.
PT. Natural Nusantara berusaha memberi alternatife solusi bagaimana teknik budidaya terong sehingga tercapai peningkatan produksi secara K-3, yaitu Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian lingkungan.

SYARAT TUMBUH
– Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi
– Suhu udara 22 – 30o C
– Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3
– Sinar matahari harus cukup
– Cocok ditanam musim kemarau

PEMBIBITAN
– Rendamlah benih dalam air hangat kuku + POC NASA dosis 2 cc per liter selama 10 -15 menit
– Bungkuslah benih dalam gulungan kain basah untuk diperam selama + 24 jam hingga nampak mulai berkecambah
– Sebarkan benih di atas bedengan persemaian menurut barisan, jarak antar barisan 10-15 cm
– Campurkan 1 pak Natural GLIO + 25-30 kg pupuk kandang halus diamkan seminggu, kemudian masukkan benih satu persatu ke polibag yang telah berisi campuran tanah dan pupuk kandang halus yang telah dicampur Natural GLIO tadi dengan perbandingan 2 : 1
– Tutup benih tersebut dengan tanah tipis
– Permukaan bedengan yang telah disemai benih ditutup dengan daun pisang
– Setelah benih tampak berkecambah muncul, buka penutupnya
– Siram persemaian pagi dan sore hari
– Semprot POC NASA dosis 2-3 tutup per tangki setiap 7-10 hari sekali
– Perhatikan serangan hama dan penyakit sejak di pembibitan
– Bibit berumur 1-1,5 bulan atau berdaun empat helai siap dipindahtanamkan

PENGOLAHAN LAHAN
– Bersihkan rumput liar (gulma) dari sekitar kebun
– Olah tanah dengan cangkul ataupun bajak sedalam 30-40 cm hingga gembur
– Buat bedengan selebar 100-120 cm, jarak antar bedengan 40-60 cm, ratakan permukaan bedengan
– Jika pH tanah rendah, tambahkan Dolomit
– Sebarkan pupuk kandang 15-20 ton / ha, campurkan merata dengan tanah. Akan lebih optimal jika ditambah SUPERNASA atau jika tidak ada pupuk kandang dapat diganti SUPERNASA 10-20 botol / ha dengan cara :
Alternatif 1 : satu botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 lt air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk untuk menyiram bedengan
Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 liter air diberi 1 sendok peres makan SUPERNASA untuk menyiram + 10 m bedengan

– Sebarkan pupuk dasar dengan campuran ZA atau Urea 150 kg + TSP 250 kg per ha dicampur dengan tanah secara merata atau sekitar 10 gr campuran pupuk per lubang tanam
– Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang 25-50 kg merata ke bedengan atau ke lubang tanam
– Jika pakai Mulsa plastic, tutup bedengan pada siang hari
– Biarkan selama seminggu sebelum tanam
– Buat lubang tanam dengan jarak 60×70 cm / 70×70 cm

PENANAMAN
– Waktu tanam yang baik musim kering
– Pilih bibit yang tumbuh subur dan normal
– Tanam bibit di lubang tanam secara tegak lalu tanah di sekitar batang dipadatkan
– Siram lubang tanam yang telah ditanami hingga cukup basah (lembab)

PENGAIRAN
Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan cuaca kering, dapat di-leb atau disiram dengan gembor

PENYULAMAN
– Sulam tanaman yang pertumbuhannya tidak normal, mati atau terserang hama penyakit
– Penyulaman maksimal umur 15 hari

PEMASANGAN AJIR (TURUS)
– Lakukan seawal mungkin agar tidak mengganggu (merusak) sistem perakaran
– Turus terbuat dari bilah bambu setinggi 80-100 cm dan lebar 2-4 cm
– Tancapkan secara individu dekat batang
– Ikat batang atau cabang terong pada turus

PENYIANGAN
– Rumput liar atau gulma di sekitar tanaman disiangi atau dicabut
– Penyiangan dilakukan pada umur 15 hari dan 60-75 hari setelah tanam

PEMUPUKAN
Jenis dan Dosis Pupuk Makro disesuaikan dengan jenis tanah, varietas dan kondisi daerah menurut acuan dinas pertanian setempat. Berikut salah satu alternatif :

Jenis Pupuk
Pemupukan Susulan (kg/ha)
Umur 15 hari
Umur 25 hari
Umur 35 hari
Umur 45 hari
Urea
75
75
75
75
SP-36
50
KCl
75
100
75

Pemupukan diletakan sejauh 20 cm dari batang tanaman sebanyak 10 gram campuran pupuk per tanaman secara tugal atau larikan ditutup tanah dan disiram atau pupuk dikocorkan sebanyak 3,5 gram per liter air, kocorkan larutan pupuk sebanyak 250 cc per tanaman
Semprotkan 3-4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK per tangki setiap 1-2 minggu sekali

PEMANGKASAN ( PEREMPELAN )
Pangkas tunas-tunas liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama hingga bunga pertama juga dirempel untuk merangsang agar tunas-tunas baru dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT

H A M A
1. Kumbang Daun (Epilachna spp.)
Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah
Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, pencegahan dengan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali.

2. Kutu Daun (Aphis spp.)
Menyerang dengan cara mengisap cairan sel, terutama pada bagian pucuk atau daun-daun masih muda
Daun tidak normal, keriput atau keriting atau menggulung
Sebagai vektor atau perantara virus
Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, pencegahan semprot PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR setiap 1-2 minggu sekali.

3.Tungau ( Tetranynichus spp.)
Serangan hebat musim kemarau.
Menyerang dengan cara mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.
Cara pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun.

4. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)
Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari
Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan ulat, pencegahan siram atau semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810.

5.Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)
Bersifat polifag.
Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang.
Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, semprot dengan Natural VITURA.

6.Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)
Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang penyakit busuk buah.
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun, pencegahan semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali

PENYAKIT
1. Layu Bakteri
Penyebab : bakteri Pseudomonas solanacearum
Bisa hidup lama dalam tanah
Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi
Gejala serangan terjadi kelayuan seluruh tanaman secara mendadak

2. Busuk Buah
Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium sp.
Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.

3. Bercak Daun
Penyebab : jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea
Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.

4. Antraknose
Penyebab : jamur Gloesporium melongena
Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan titik-titik hitam

5.Busuk Leher akar
Penyebab ; Sclerotium rolfsii
Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat

6.Rebah Semai
Penyebab : Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp.
Gejala batang bibit muda kebasah-basahan, mengkerut dan akhirnya roboh dan mati
Cara pengendalian Penyakit:
Tanam varietas tahan, atur jarak tanam dan pergiliran tanaman, perbaikan drainase, atur kelembaban dengan jarak tanam agak lebar, cabut dan buang tanaman sakit Rendam benih dengan POC NASA dosis 2 cc / lt + Natural GLIO dosis 1 gr/lt, Pencegahan sebarkan Natural GLIO yang telah dicampur pupuk kandang sebelum tanam ke lubang tanam.